Ulasan Negatif, Auto Penjara

“Beginikah wajah perusahaan jasa zaman now? Ada komplain dari konsumen ditanggapi dengan pemanggilan sang pengomplain ke penjara. Bukan malah fokus memperbaiki layanannya.”

Kurang lebih seperti itu statement yang bisa saya berikan untuk membuka artikel pada hari ini. Statement itu saya tunjukkan pada isu yang sempat gonjang-ganjing di kalangan para spotters alias mereka yang ngefans dengan pesawat. Sama halnya dengan saya yang juga seorang Railfans, yang ngefans dengan kereta api.

Seharian kemarin, lini masa Twitter saya cukup menaikkan tensi saya. Bagaimana tidak, di pagi hari, saya dapat kabar dari teman saya, jika ada surat larangan yang beredar dari salah satu maskapai pelat merah. Intinya di surat yang beredar itu, maskapai yang bersangkutan melarang penumpang maupun awak kabin untuk mendokumentasikan kegiatan yang ada di kabin pesawat. Alasannya, belum diketahui saat saya pertama kali mengetahui adanya surat edaran itu.

Sebagai orang yang juga sama-sama suka transportasi umum, seperti halnya spotters maupun Flight Reviewer, saya menyayangkan kebijakan itu. Karena, menurut saya pribadi, seorang fans yang mendokumentasikan hal yang disenanginya tentu bukan tindakan kriminal, asalkan tidak merugikan orang lain dan membahayakan. Intinya, saya menyayangkan adanya surat itu. Apalagi itu dikeluarkan oleh maskapai pelat merah yang harusnya jadi market leader dan panutan maskapai lain yang beroperasi di negara ini.

Tak berhenti sampai situ saja, beberapa jam kemudian tensi semakin naik. Maskapai itu diberitakan mencabut aturan tersebut. “Kok plin-plan gitu?” ujar saya dalam hati. Berita tersebut secara tidak langsung pastinya akan menggiring opini publik jika perusahaan tidak siap dengan keputusannya. Benar saja, tak perlu waktu lama, warganet langsung berkomentar seperti itu. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan ingin move on saja dari maskapai itu.

Karena penasaran, akhirnya saya mencoba cari-cari informasi lain mengenai pencabutan surat edaran itu. Di media lain saya menemukan jika surat edaran yang sebelumnya adalah untuk ranah internal maskapai, belum resmi diedarkan ke publik. Tak hanya itu, ada media lain juga yang menyatakan bahwa maskapai yang bersangkutan merevisi edaran itu dengan mengganti kata melarang menjadi mengimbau. “Cerdas sekali bikin alasan”.

Saya tak habis pikir, untuk perusahaan sebesar itu bisa mengeluarkan alasan seperti itu. Sebelas dua belas dengan salah satu SD Negeri di Yogyakarta yang sempat viral pada bulan lalu karena mewajibkan siswi barunya menggunakan seragam dengan busana muslim lewat edarannya. Kemudian, edaran itu akhirnya viral dan pihak SD kemudian merevisinya dengan dalih “Salah Redaksional”. Mirip bukan?

Lanjut ke sore harinya, saya mencoba membaca media-media asing. Saya memang suka membaca media asing karena analisis beritanya jelas, meski versi daring, beda jauh dengan di sini. Saya menemukan kemungkinan dari maskapai pelat merah itu sampai-sampai mereka mengeluarkan edaran itu. Dalam media itu tertulis jika maskapai itu mengeluarkan edaran akibat ulah salah satu penumpang, seorang pembuat konten YouTube, mengunggah konten yang intinya mengkritik layanan kelas dua (bisnis) dari maskapai itu. Si pengunggah intinya kecewa karena masalah layanan. Ya iyalah, sudah bayar mahal untuk bisa menikmati layanan kelas dua kok tidak memuaskan. “Ada uang, ada kualitas”. Seharusnya begitu.

Malam harinya, suasana yang harusnya damai, karena bulan purnama muncul dengan indahnya malah makin suram. Kok suram? Ya, bayangkan saja, ada berita mengejutkan bahwa si Youtuber dipanggil pihak kepolisian. Si Youtuber dipanggil kepolisian atas dugaan kasus pencemaran nama baik si Maskapai. “Wah sudah mulai nggak sehat nih si maskapai. Diulas negatif bukannya minta maaf dan memperbaiki layanan. Malah bikin edaran viral dan memenjarakan yang mengulas.”

Sampai pagi ini, saat artikel ini ditulis, saya masih nggak habis pikir. Sakit apa maskapai itu. Sudah keuangan merah, layanan gak beres, niat menjarain orang lagi. Saya speechless dengan drama yang mereka buat. Tapi, dibalik speechless itu, saya akhirnya juga dapat inspirasi. Inspirasi apa?

“Besok kalau ada yang mendokumentasikan keburukan The Coco Post Indonesia dan ngasih ulasan negatif, akan saya penjarain tuh orang pakai dalih UU ITE dan pencemaran nama baik”

(ldr)

Lugas Rumpakaadi

Suka kereta api. Penulis artikel kereta api.

%d blogger menyukai ini: