The Invisible Man (2020)

The Invisible Man (Mainmain.id)

Thecocopost.id-Kali ini bioskop tanah air didatangi kembali film horror Hollywood, yakni The Invisible Man. Sebenarnya film ini tidak mengarah kepada horror melainkan lebih ke thriller dari science-fiction seperti yang disampaikan Produser (Jason Blum) kepada Observer.

Dalam novel aslinya (film ini terinspirasi/diadaptasi dari novel ini), The Invisible Man karya H. G. Wells menceritakan Griffin, seorang ilmuwan albino yang terkucilkan oleh masyarakat. Pengasingan dari masyarakat ini memunculkan ide/harapan untuk membuat dirinya tak terlihat.

Eventually, he did. Dimulai dari gelas, bantal karpet, kucing, dan akhirnya dirinya sendiri. Griffin melakukannya dengan memanipulasi cahaya-cahaya yang terpantul dari sebuah objek yang akan ditangkap oleh mata.

Lalu bagaimana dengan film adaptasi 2020 ini? Mantap lur. Leigh Whannel (Director, Writer-screenplay and story) mengolah cerita tersebut dengan membawanya ke dunia modern. Berikut adalah synopsis yang penulis dapatkan dari website resmi The Invisible Man:

What you can’t see can hurt you. Pemenang Penghargaan Emmy, Elisabeth Moss (Us, The Handmaid’s Tale) membintangi sebuah kisah obsesif modern yang menakutkan dan terinspirasi oleh karakter monster klasik Universal.

Terperangkap dalam hubungan yang obsesif dan penuh kekerasan, dengan ilmuwan Optik kaya dan brilian, Cecilia Kass (Moss) lolos di tengah malam dan menghilang ke persembunyian, dibantu oleh saudara perempuannya (Harriet Dyer, The InBetween NBC), teman masa kecil mereka (Aldis Hodge, Straight Outta Compton) dan putri remajanya (Storm Reid, Euforia HBO).

Tetapi ketika mantan Cecilia yang kejam (Oliver Jackson-Cohen, The Haunting of Hill House dari Netflix) melakukan bunuh diri dan meninggalkannya sebagian besar dari kekayaannya yang sangat besar, Cecilia menduga kematiannya adalah bohong/hoax. Ketika serangkaian kebetulan mengerikan berubah mematikan, mengancam kehidupan orang-orang yang dia cintai, kewarasan Cecilia mulai terurai ketika dia mati-matian mencoba membuktikan bahwa dia sedang diburu oleh seseorang yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun.

Review

Leigh Whannell sebelumnya juga menyutradarai Upgrade (2018) yang agak mirip genre nya dengan The Invisible Man (2020), yakni Sci-fi Thriller. Namun Upgrade memiliki kadar Sci-fi yang lebih tinggi daripada The Invisible Man. Apabila pembaca belum pernah menontonnya, saya sarankan (RECOMMENDED) untuk menonton!

Leigh Whannel juga seorang pria dibalik film Saw dan Insidious. Pada kedua film series tersebut Whannell selalu berkolaborasi dengan James Wan (uwu, my favorite collaboration). Setelah saya mengetahui penulis dan sutradara dari film The Invisible Man adalah Whannell, keingintahuan saya semakin meninggi. Mencoba mengira-ngira, ‘filmya ntar gimana yaaa…..’. Well, now I know!

The story is quite fresh, dengan adaptasi ke dunia modern, yang tidak berfokus pada Invisible Man sebagai sebuah kekuatan, hantu, supernatural, melainkan sebuah teknologi yang sangat canggih ciptaan Adrian. Whannell telah membalikkan pola dasar The Invisible Man menjadi sebuah film an incredibly tense and suspenseful thriller yang mengeksplorasi kengerian psikologis dari hubungan abusive seseorang..

Shot-nya juga sangat menarik. Pergerakan kamera yang men-shooting ruangan kosong menambah tingkat menegangkan. Penonton diajak/dipancing, ‘hayo jumpscare gak nih?’, ‘hayo, di mana invisible man-nya?’, ‘hayo cari terus, di mana ya?’.

Film ini juga didukung dengan acting luar biasa dari Elizabeth Moss. Plot twist dapat terbentuk karena acting gila nya Moss yang mampu menggambarkan seseorang yang tertekan (psikologi) dan paranoid (a f**ked up person).

Cerita ini tidak hanya serta merta menceritakan The Invisible Man, namun terdapat poin tersirat yakni sebuah perjuangan seorang wanita melawan hubungan yang abusive. Dalam hubungan seperti ini, wanita cenderung diam, bertahan, dan mengalah.

Tindakan abusive ini adalah tindakan criminal. It’s not your fault if you are being abused, so don’t blame yourself. No one deserves to be abused. Lalu Cecile selalu diatur oleh Adrian, mulai dari bajunya, makannya, jadwalnya, jalannya, pola pikirnya semua diatur/dalam control Adrian. Yes, that is some patriarchy shi*t. Setiap orang (pria/wanita/transgender) memiliki hak yang sama dalam memperoleh sesuatu. Sekarang ini masih banyak tempat yang mengutamakan pria daripada wanita/transgender yang mana tidak adil bagi mereka yang juga ingin berpartisipasi.

This movie is fun, not bad, not best, but good. Horror hasil dari Sci-fi Thriller ini akan mengguncang tubuh anda dan tentu saja mengobati rindu anda dengan film horror.

(yh)


%d blogger menyukai ini: