Terkena Efek Gusdur

Cerita bermula saat Orde Baru berakhir.

Era yang kemudian kita sebut reformasi. Ditandai dengan tertatih-tatihnya perekonomian Indonesia. Akibat krismon. Juga ketidakstabilan politik. Dan Ancaman gerakan separatis. Di Aceh, Maluku, dan Papua.

Tapi beruntung. Setelah Presiden Habibie di “mosi tidak percaya-kan” oleh MPR, naiklah Gusdur. Sosok yang amat melegenda. Hingga sekarang.

Gusdur mewarisi kondisi yang teramat berat. Krisis moneter yang menjangkiti Indonesia pada 1998 itu, juga berujung pada krisis multidimensi. Kondisi sosial ekonomi kala itu benar-benar parah.

Gusdur adalah presiden tuna netra pertama di dunia. Buta dan mewarisi kondisi yang teramat berat. Gusdur boleh buta, tapi hatinya sama sekali tidak. Di masa pemerintahannya, menteri yang duduk di kabinet adalah sebenar-benarnya profesional. Dan asli, pilihan presiden. Bukan dari “juragan besar” apalagi kompromi politik. Sosok seperti Rizal Ramli adalah salah satunya.

Masa pemerintahannya berhasil membuat perekonomian pulih. Yang berlangsung dengan sangat cepat. Lewat cara-cara yang saat ini kita sebut out of the box. Gusdur juga memulihkan kondisi sosial. Lewat welas asih dan toleransi bagi kaum minoritas. Kelak, Gusdur akan dikenang sebagai seorang guru bangsa.

Sayang, pemerintahannya cuma bertahan 2 tahun. Ia dilengserkan lewat Rapat Paripurna.

Banyak pernyataan Gusdur yang kontroversial. Yang paling terkenal tentu anda tahu. Menyebut DPR sebagai sekumpulan bocah taman kanak-kanak. Sampai sekarang, pernyataan itu masih relevan.

Ada pula yang jadi blunder. Seperti konsep Tahura. Tanaman Hutan Rakyat. Yang menekankan pentingnya pengelolaan hutan oleh rakyat.

Pernyataan itu lalu dijadikan pembenarnan bagi masyarakat untuk melakukan penjarahan hutan. Dengan berbondong-bondong. Padahal maksud pernyataan Gusdur itu tata kelola hutannya yang dilakukan bersama. Antara Perhutani dengan masyarakat. Lewat LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan).

Tapi mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur.

Blunder itu sudah terjadi. Penjarahan yang dilakukan itu dicatat sejarah sebagai reaksi masyarakat merayakan kebebasan. Setelah terkekang dan merasakan ketidakmerataan pembangunan selama 32 tahun.

Termasuk di Bambang juga. Yang Kopinya menghilang sejak awal 2000an. Bersamaan dengan masifnya penambangan pasir.

Dan lagi. Kok ya untungnya.

Kopi di Bambang itu tidak hilang semua. Ternyata masih ada. Meskipun sangat sedikit. Seperti yang ada di foto itu. Dekat rumah Pak Puji Mulyono. Di Dusun Pandanrejo.

Misteri hilangnya kopi di Bambang memang rumit. Banyak pihak yang saya temui menyimpulkan ini: “Kopi di Bambang ada karena kebijakan (tanam paksa) dan hilang akibat kombinasi politik dan tambang pasir”.

Tenang saja. Kopirejo masih seru. Saking serunya sampai harus dibuat trilogi.

(fmi)

Hits: 1

Bagikan:

Fadel M. Irfan

Seorang jurnalis pertanian. Yang juga sangat senang sejarah.

Tinggalkan Balasan