Sumberbulu (Bagian 2)

(Fadel M Irfan)

Kembali lagi.

Pada mulanya, Sungai Sumberbulu selalu ada airnya. Tapi sejak penambangan pasir marak, ditambah lagi perubahan iklim, jadilah sungai itu kini kering. Selama 9 bulan dalam setahun.

Sialnya, ketika ada airnya, Sumberbulu selalu mengakibatkan banjir di Desa Bambang. Airnya meluap karena hampir tidak ada tanaman yang mampu meresapnya. Apalagi di bagian pinggir sungai. Habis ditebang karena tambang pasir.

Hanya ada satu solusi untuk mengatasi itu, revitalisasi lahan bekas tambang. Secara sukarela. Lihatlah di gambar. Itu adalah kondisi lahan pertanian secara umum yang ada di Bambang. Sedangkan satunya lagi adalah lahan setelah direvitalisasi.

Saya harus tulis sukarela karena dari fakta di lapangan, ternyata lahan-lahan yang dijadikan tambang pasir itu tidak dilakukan secara ilegal. Murni milik perseorangan. Lahan-lahan itu kemudian disewakan, digarap, dibagi hasil.

Mirip prinsip konsesi tambang. Tapi skalanya lebih kecil. Kalau sudah begitu, apapun yang mereka lakukan, tidak bisa disalahkan. Apalagi secara serampangan sambil mencak-mencak. Lha kan menambangnya di propertinya dia sendiri. Kita harus hormati hak pribadinya itu.

Pertanyaannya kemudian, kalau sudah habis pasirnya, mau diapakan lahannya?

(Fadel M Irfan)

Saya kecele. Jawaban para pemilik tambang itu sangat simple. Dikembalikan lagi seperti semula. Biar bisa ditanami, dan agar lahan saya bisa tetap menghasilkan.

Saya hanya diam dan mengangguk.

Mereka-mereka ini, yang sedari awal dicap oleh “orang-orang kampus” sebagai perusak lingkungan yang serakah, ternayata masih punya tanggung jawab lingkungan. Dan ini normal karena mereka sejatinya hanya ingin cari untung. Dan untung, tidak kebablasan.

Saya salut. Dengan komitmen mereka.

Hal menarik lain yang saya temukan adalah, mayoritas lahan bekas tambang yang telah direvitalisasi digunakan untuk tujuan pertanian. Ini sangat bagus. Lagipula, sebelum penambangan pasir ada, perekonomian andalan Desa Bambang adalah peternakan dan pertanian. Terutama perkebunan kopi. Yang sudah ada sejak jaman Belanda, persisnya tahun 1856. Sampai ada wilayah Bambang yang dinamai Kopirejo.

Nah, itu dia. Tulisan saya yang berikutnya.

(fmi)

Hits: 2

Bagikan:

Fadel M. Irfan

Seorang jurnalis pertanian. Yang juga sangat senang sejarah.

Tinggalkan Balasan