Soal Lobster

Thecocopost.id-GRESIK, INDONESIA. Tahun baru memang sebentar lagi. Tapi jangan sampai hiruk pikuk itu menyilaukan isu yang sedang hangat-hangatnya, benih lobster.

Seminggu yang lalu, terjadilah gaduh di media konvensional maupun maya terkait hal ini. Musababnya, benih lobster akan diizinkan untuk diekspor. Meskipun masih wacana, kebijakan ini tak ayal mengakibatkan kritik keras.

Tak terkecuali srikandi penjaga laut kesayangan netizen. Siapa lagi kalau bukan Susi Pudjiastuti. Ia menyayangkan, jangan sampai kufur nikmat untuk menjual benih lobster.

Saya sepenuhnya setuju. Karena, ini berarti mengoptimalkan nilai ekonomi dari sebuah komoditas. Sederhananya begini: lebih baik menjual lobser yang memang harganya mahal daripada menjual benih yang harga seperatusnya pun tidak ada.

Argumen Bu Susi ini dibangun dengan pemahaman bahwa lobster belum bisa dibudiayakan secara masif. Belum ada hatchery maupun pembesaran lobster layaknya udang Vaname. Lobster masih alamiah macam Sidat.

Hingga, datanglah rekaman video yang diulas oleh Dahlan Iskan. Meskipun kualitas videonya meyiksa mata, tapi kontennya begitu penting. Yaitu pemaparan Prof. Effendy Gazali mengenai keberhasilan budidaya lobster di Vietnam.

Video ini –kalau benar– berarti membantah pemahaman yang selama ini berlaku. Bahwa, lobster sejatinya bisa dibudiayakan. Terlepas dari polemik itu, saya sependapat dengan Pak Dahlan.

Jadi, alih-alih diekspor lebih baik benih lobster ini diperbolehkan untuk ditangkap dengan sistem kuota dan harus benar-benar digunakan untuk proses budidaya. Khusus bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Kita harus belajar dengan keras. Jangan sampai kalah dengan Vietnam. Apalagi keberhasilan mereka itu berkat benih lobster Indonesia, yang diselundupkan lewat Singapura. Alamak, bukan main!

(fmi)


Helmuth von Moltke

A Preu├čen Feldmarschall

%d blogger menyukai ini: