Serangan Balik

Yang ditunggu-tunggu itu akhirnya telah tiba. Semoga anda masih ingat.

Saya bahkan telah menulisnya 6 bulan yang lalu di “Boikot Sawit”.

Terkait hal itu, memang sudah lama Uni Eropa mendiskriminasi sawit kita. Melalui penyerangan media. Juga aktivis lingkungan hidup macam Green Peace.

Contohnya, menggunakan minyak sawit sama dengan membunuh Orangutan. Karena pembukaan lahan sawit dilakukan serampangan dengan metode slash & burn.

Tapi sawit Indonesia tetap jaya. Terbukti, minyak sawit bisa bersaing dengan minyak nabati lain. Baik secara kualitas maupun harga.

Keunggulan itu juga dikuatkan oleh fakta lain. Yakni minyak sawit punya produk turunan lebih banyak yang bisa digunakan untuk kepentingan industri. Seperti Oleokimia dan Biomaterial.

Intinya sawit ini emas hijau. Murah dan kaya kegunaan. Semuanya baik-baik saja. Sampai awal maret lalu itu.

Duarrr! 5 Juta ton minyak sawit yang kita ekspor ke Uni Eropa tiba-tiba dikenakan tarif. Besarannya mulai dari 8-18%. Alasanya ada 2: melakukan deforestasi & memberikan fasilitas subsidi pada eksportir biodiesel. Inilah yang dianggap curang.

Tentu keputusan dadakan itu sangat menganggu. Apalagi hingga hari ini, ekspor terbesar Indonesia adalah sawit. Yang pasar terbesar keduanya adalah Uni Eropa.

Sial betul memang.

Citra sawit yang sudah bobrok itu kini harus diperparah dengan tarif. Otomatis harganya menjadi lebih mahal. Dan tidak kompetitif lagi.

Sebenarnya memberikan tarif begitu itu sudah tidak relevan. Abad ke-21 adalah era perdagangan bebas. Yang setiap negara harus mematuhi putusan dari WTO.

Tapi prinsip itu tidak diindahkan.

Uni Eropa lah yang memulai untuk memberikan tarif itu. Yang wajib berlaku di seluruh negara anggotanya. Dengan jumlah 28 negara.

Dikeroyok. Mampuskah kita? Tentu tidak!

Indonesia tidak menyerah. Dan tidak boleh menyerah!

Dibalaslah tarif sawit itu dengan tarif juga. Besarannya lebih besar. 20-25% yang dikhususkan hanya untuk produk susu. Akhirnya, perang dagang juga terjadi pada negara kita.

Tentu ini bukan iktikad yang baik. Tapi kan mereka duluan yang memulainya.

Tit for Tat!

(fmi)

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
error: Content is protected !!