Seni Menunggu

Wallpapercave

Bener deh, menunggu pun ada seninya. Sering sekali kita temui, fenomena orang zaman modern itu ingin serba instan dalam hal apapun. Tanpa memperhatikan “sikontol”. Lho kok begitu? Iya, Situasi-Kondisi-Toleransi.

Termasuk yang dialami oleh Ryan, mahasiswa akhir yang dengan sabarnya menunggu dosen pembimbing (dospem), sebut saja Dr. Abdul. Saben pagi Ryan selalu stand by di depan ruangan beliau.

Penampilan Ryan sangatlah kasual. Sepatunya saja kets, atasannya betul berjaket tapi dalamannya shirtless. Bukan main wolesnya. Ryan bisa begitu karena ia sempat merasa stres. Dulu, ia selalu ingin serba cepat, efisien, cak-cek tapi juga seringkali terbentur dengan realita yang ada.

Ryan punya prinsip, tidak perlu berharap banyak pada orang lain. Pada akhirnya semua akan bermuara ke diri kita sendiri. Jadi, ada baiknya berpacu dengan diri sendiri saja daripada harus memperbandingkan dengan orang lain.

Ryan teguh betul dengan itu. Sampai-sampai, butuh 6 tahun buatnya agar bisa lulus jadi sarjana. Lantas, bagaimanakah kabar Ryan sekarang?

Sama, ia juga lagi menunggu. Tepatnya menunggu RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) di Hotel Pullman Jakarta. Mahasiswa woles itu kini jadi pemegang saham di Ciputra Development Company. Seni menunggunya diterapkan dalam dunia investasi.

(fmi)


Helmuth von Moltke

A Preußen Feldmarschall

%d blogger menyukai ini: