Secangkir Rindu

Viki Reich

Segelas kental hitam tersuguh dihadapanku
Tak mampu mengusir dinginnya malam ini
Makin malam, dingginya makin membeku
Tapi, tetap tak bisa membekukan rasa rindu

Tak terasa, waktu mulai pagi
Perubahan cuaca yang cepat sekali
Tapi lagi-lagi, rindu tetaplah awet
Padahal sudah bercangkir-cangkir kuhabiskan

Langit mulai biru
Surya mulai kelabu
Tanda sudah memasuki hari rabu
Ingin rasanya mengembalikan waktu

Untung kopi ini mencegahku
Warnanya hitam sehitam api neraka
Rasanya kuat sekuat kematian
Tapi manis, semanis cintaku padamu

“Nggak sabar mau weekend-an sama kamu” isi chat Ari pada si Ria.

“Uhuhuhuk, puitisnya” balasnya

Begitulah, dinamika kasmaran. Padahal, jarak kediaman mereka hanya Sigura-gura dengan Sumbersari.

Hilih. Dasar manis-manja-arogan.

(fmi)

Fadel M. Irfan

Jurnalis pertanian yang sangat senang sejarah.

error: Artikel Ini Dilindungi
%d blogger menyukai ini: