Saudi dan Akhir Dari Pasir

Tibalah saya mengakhiri trilogi Kopirejo.

Sudah menjadi ketetapan Tuhan. Bahwa segala sesuatu yang bersifat enak tapi cepat didapat selalu bersifat sementara. Juga sebaliknya, apapun yang didapat dengan jerih payah meskipun toh tak seberapa, pasti bersifat kekal.

Meskipun tidak seberapa, ada hikmah yang dapat dipetik dari jerih payah yang dilakukan. Agar kedepan, seseorang bisa menjadi semakin baik. Dalam hal yang diinginkannya. Sesuai petunjuk yang diberikan Tuhan.

Premis tersebut berlaku bagi siapapun. Dan dalam hal apapun. Contoh pada kegiatan ekonomi. Negara yang dikaruniai sumber daya alam melimpah belum tentu membuatnya sugih. Terus-terusan.

Arab Saudi misalnya. Dikaruniai Tuhan sumber daya alam yang sangat besar berupa minyak. Hingga dijuluki Petrodollar. Dan masih belum cukup. Ada dua kota suci umat islam disana. Mekkah dan Madinah. Yang mendorong umat islam sedunia berkunjung. Untuk kewajiban berhaji atau sekedar berwisata religi. Tentu menjadi sangat berkah. Juga menguntungkan karena devisa yang didapat.

Dan akhirnya, seperti yang anda tahu. Arab Saudi jadi makmur. Seperti yang sering diceritakan orang-orang sepulang haji. Persisnya, pendapatan per kapita Arab Saudi sebesar US$ 21.057 dollar dari data CEIC 2017. Angka yang sudah tergolong sebagai negara maju.

Apakah “makmurnya” itu kekal?

Sepanjang lima tahun belakangan ini banyak terjadi perubahan. Terutama saat tren harga minyak dunia turun. Dengan serta merta Arab Saudi memangkas subsidi untuk rakyatnya dan menaikkan pajak. Akibat defisit anggaran untuk kali pertama. Sebanyak 15% dari PDB.

Kasus Arab Saudi bisa diambil kesimpulan yang bermuara pada premis diatas. Dan meskipun jangkauannya lebih kecil, Desa Bambang sebenarnya memiliki permasalahan yang sama. Terlalu mengandalkan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.

Lihatlah gambar dibawah. Pengambilan itu saya ambil diam-diam. Saat perjalanan menuju Kopirejo beberapa minggu lalu.

Dengan gampangnya pasir itu dikeruk. Sesampainya di perbatasan desa, pasir itu lalu “dimandikan”. Biar beratnya bertambah dan berharga lebih mahal. Destinasi terakhir bagi pasir-pasir itu berada di Gadang. Lalu disebarkan ke Malang Raya.

Siklus tersebut terus terjadi sejak awal 2000an hingga hari ini. Sampai hampir semua lahan di Bambang berlubang. Juga jalan rayanya. Akeh geronjalane.

Mau sampai kapan seperti ini terus?

Apakah harus menunggu sampai longsor terjadi?

Kalau pasirnya habis, Bambang akan mengandalkan apa?

Persoalan itulah yang harus saya jawab. Lewat aktif di proyek CCCD. Juga lewat skripsi. Yang jelas kegiatan perekonomian Desa Bambang harus mengalami pergeseran. Biar untung. Alamnya & masyarakatya.

Semoga BPDASHL yang punya gawe pada proyek CCCD benar-benar komitmen.

Hingga waktunya selesai.

(fmi)

Fadel M. Irfan

Jurnalis pertanian yang sangat senang sejarah.

%d blogger menyukai ini: