Sarapan Soto Kelas Pekerja

Fadel M. Irfan

Saya terpaksa beraktivitas pagi. Sejatinya saya senang saja dengan pagi hari. Bisa ketemu kedamaian maupun kesejukan udaranya.

Yang membuat aras-arasen adalah saat di jalan raya. Kedamaiannya jadi rusak akibat klaskson dan hilir mudik kendaraan.

Uwong nyambut gawe & mengantar anak sekolah. Campur aduk. Apalagi ini Kota Malang. Warganya terkenal punya sopan santun menyetir yang luar biasa!

Agendanya adalah survei di MAN 2 Kota Malang. Sekolah setara SMA ini dulunya bernama MAN 3 Malang. Saya akui sekolah ini punya reputasi. Dibidang kesiswaannya dan prestasi akademiknya.

Adikku yang wedhok kelak disekolahkan disini. Rencananya. Tapi, survei itu gagal. Saya harus buat janji dulu. Ya sudah, saya baru dipersilahkan jam 1 nanti.

Dalam perjalanan pulang, pandangan saya terganggu kerumunan orang di rombong soto. Letaknya persis disamping gedung BSS. Saya hampiri saja. Kan saya juga belum sarapan.

Pelayanannya cepat. Semangkung soto itu diberi daging ayam serta jeroan yang tidak tedeng aling-aling. Hmm, yaopo yo? Gak opo-opo lah. Sesekali.

Selanjutnya saya bingung. Ini makannya dimana, masa harus berdiri begini? Gestur saya yang terbaca itu lalu diteriaki pengemudi Gojek “Duduk disini lho mas!”

Oalah, ngene ta tibak’e

Jadi kursi plastiknya dijadikan meja sedangkan duduknya cukup di emperan jalan. Seru juga. Sejauh mata memandang yang sarapan disini didominasi pekerja. Satpam, pengemudi Gojek, sampai buruh pabrik.

Saya berkesimpulan soto ini memang didesain untuk mereka yang butuh kalori tinggi. Harga soto ini juga terbilang murah, cukup 10 ribu saja. Sahabat pembaca tertarik mencoba soto kelas pekerja ini? Monggo, rasanya enak kok.

Saya anjurkan agar tidak mengkonsumsinya dengan sering. Ingat, kolestrol.

(fmi)

Fadel M. Irfan

Jurnalis pertanian yang sangat senang sejarah.

%d blogger menyukai ini: