Sahabat si “Ahli Hisap”

Thecocopost.id-MALANG, INDONESIA. Sahabat pembaca yang budiman, sudah menjadi rahasia umum kalau sebagian besar masyarakat Indonesia adalah alias perokok. Persisnya, sebanyak 35% penduduk adalah perokok aktif. Bila dinarasikan, angka itu sama dengan 65,19 juta penduduk.

Dari angka itu Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara “surga” rokok di ASEAN. Tingginya jumlah perokok sejalan dengan jumlah batang rokok yang diproduksi pelaku industri, yakni 360 milyar. Ternyata angka itu masih jauh dari target mereka, yakni 500 milyar.

Tak bisa dipungkiri, rokok telah membawa berkah bagi mereka yang berkecimpung didalamnya. Tidak usah jauh-jauh, dilihat dari orang terkaya di Indonesia saja, ururtan ke-1 dan ke-2 selalu diiisi oleh pemilik Gudang Garam & Djarum.

Pertanyaan selanjutnya, apakah keuntungan yang diperoleh perusahaan rokok itu sejalan dengan si pemasok alias petani tembakau? Dan jawabannya adalah “Iya” sahabat pembaca.

Hal tersebut dibuktikan dengan NTP (nilai tukar petani) tembakau yang lebih tinggi dari komoditas tebu. Pun dalam sejarahnya pada zaman kolonial dahulu, banyak petani yang bisa pergi berhaji karena berbudidaya tembakau.

Meskipun begitu, dunia “pertembakauan” di Indonesia masih memiliki banyak PR. Isu yang mengemuka akhir-akhir ini adalah kenaikan cukai rokok pada 2020 sebesar 23%.

Menurut banyak pihak nih sahabat pembaca, kenaikan itu diyakini dapat mematikan petani tembakau.

Oh, benarkah demikian?

(fmi)


Helmuth von Moltke

A Preu├čen Feldmarschall

%d blogger menyukai ini: