(PUISI) Suram Pembawa Kacau

Kala itu kesatria memutuskan perang
Dengan kudanya yang terisi oleh meriam panjang
Menoleh pada kedua sisi dari gunung menoreh
Menjulang dan bertahan disana

Jika memang keras itu menerpa maka bangkit kaum laknat
Resah hal ini yang kemudian yang bisa aku lakukan saat ini mengembara ke halaman belakang
Sudah aku sudah tak kuat untuk membawa sarung pedangku

Perang itu panjang dan tak kenal rasa akan takluk
Pertempuran itu sedih tanpa mengetahui pemenangnya
Mahkota tetap saja mahkota tak bisa diterima dan dipuja
Hanya suapan demi suapan cara manusia kuno mungkin disantapnya

Jika kau tau diseberang sana ada matahari
Hunus pedangku dan bawa pada peradilan pelangi
Muak dengan segala cara tapi….
Aku harus segera beranjak dari mudaku yang semu

(ans)

Hits: 0

Bagikan:

Airlangga Nala Siswanto

Seorang mahasiswa yang biasa aja dan seorang duafa di negeri yang bernama Jember, dan mungkin berprofesi sebagai Tukang Sunat di masa depan, Cinta akan kedamaian...lahir di negeri Osing Banyuwangi dan memiliki impian untuk berguna bagi orang lain....Cieee Apa iya?....Penulis ini memiliki citra humor walaupun banyak garingnya....maka dari itu hargai ya soalnya kasian....Hobi penulis ini adalah ngewibu, membaca, dan ke masjid....salam sukses dan salam baca, yang penasaran bisa ngemail ke :airlangganalas@gmail.com atau kalo mau stalking di Ig: airlanggasiswanto (jika follow minta aja follback pasti di follback...maksa banget yak) itu aja makasih yak Uda ngerelain mbaca biodata gua yang nggak penting ini

Tinggalkan Balasan