Pondok Mata Malam

Ilustrasi Pondok di malam hari (motheringwithmindfulness.com)

Kita duduk bersama dengan kata kata manja yang hinggap di awan-awan pemikiran kita sendiri
Seiringan kita mendaki bukit – bukit yang tak terlihat
Kita berseluncur dan menemukan palung – palung yang bersandiwara
Hancur dan lebur rasanya disamping berdiam diri sendiri

Kita tak mau untuk berdamai dan membuat gambaran semu
Kita harus memastikan bahwa api tak lekas berubah menjadi asap
Kita menjadi rapuh dan halus dengan genggaman kita sendiri
Paham dengan keadaan memang sangat wajar dan mulia

Kita menjadi cerita dari sejarah yang tak pernah terdengar sebelumnya
Gambaran diri menjadi wayang yang tak memiliki pasangan yang tak searah
Sudahi papasan ini dengan perasaan yang tak bersemi kembali
Saudagar kaya memang tak sebanding dengan orang mulia

Kita tak bisa menyamakan goresan tinta dengan goresan hati
Terlalu berbeda dan tak bisa dikiaskan
Mungkin ini kau anggap biasa tapi aku tidak berpikiran demikian
Cara kita menjadi – jadi dan tak bisa berubah begitu saja
Kita sudahi dengan kata sayang yang tak berbekas

(ans)


Airlangga Nala Siswanto

Seorang mahasiswa yang biasa aja dan seorang duafa di negeri yang bernama Jember, dan mungkin berprofesi sebagai Tukang Sunat di masa depan, Cinta akan kedamaian...lahir di negeri Osing Banyuwangi dan memiliki impian untuk berguna bagi orang lain....Cieee Apa iya?....Penulis ini memiliki citra humor walaupun banyak garingnya....maka dari itu hargai ya soalnya kasian....Hobi penulis ini adalah ngewibu, membaca, dan ke masjid....salam sukses dan salam baca, yang penasaran bisa ngemail ke :airlangganalas@gmail.com atau kalo mau stalking di Ig: airlanggasiswanto (jika follow minta aja follback pasti di follback...maksa banget yak) itu aja makasih yak Uda ngerelain mbaca biodata gua yang nggak penting ini

%d blogger menyukai ini: