Pie Ram (Puisi Edisi Ramadhan): Kancil Pemburu Lupa

(Wikipedia.org)

Mentari itu tinggi memang terbayang jauh
Aku masih mencari arti yang memanggil jiwaku
Kata anak kecil itu aku akan berlari jika menemukan pohon Cemara hijau itu
Aku hanya anak emperan yang menelaah tawa demi tawa

Kamu memang tangguh masih kuat berdiri mencari jati diri
Aku masih menyongsong langit yang bulat termakan bulan
Yaa aku hanya bisa bersandar dalam alunan alunan rayu bidadari
Terus berlari tanpa peduli matahari

Kelinci itu masih memakan wortelnya hingga waktu senja enggan datang di tanah ini
Kijang masih sibuk memotongi rerumputan segar yang melambai kepadanya
Gagak bertebaran di angkasa mencari mangsa untuk menemukan angsa merah
Sibuk sekali makhluk ini, ini sengaja atau hanya prasangka tersangka

Lemah kecil masih kurasa karena ketidakmampuanku menebang kayu jahat itu
Memang rasa ini tak perlu jauh kadang perlu disebar…merata terbelit kuasa
Kadang kita hanya pasrah…tapi itu bukan pilihan…
Karena gerbang surgawi masih terbuka..ia tidak memilih tapi kita yang mau memilihnya

Sayang kalian masih tidur….pulas…termakan waktu yang segar
Terapas terhempas samudra lepas yang awas…
Aku masih tertampar untuk memilih antara surgawi dan jahanam panas
Sulit….aku redupp…tertatih tatih menopang asaku yang tinggal seperempat

Aku pegang pedang ini masih mengkilat tak tersentuh priyayi serta Gunung itu berbicara melalui lahar dan gempanya…
Perkataan ibuku…masih menggelegar seperti halilintar di musim penghujan
dan aku bersiap dalam jubahku bertanding mati melawan tembok besi
Kancil Pemburu Lupa
Itu dia masih lincah dan sangat cepat menendang terkadang matanya sayu
Rumput masih hijau masih dia injaknya diatas pelangi bukit batu liar

Liar kejam kadang tergores di mata kancil itu…
Singa masih mengaum di Padang ilalang…tanah gersang masih teringat dipandang bulu
Kadang hutan masih sangar dengan alamnya yang liar
Gua itu kadang sesak dengan ringkikan keledai yang kelaparan

Tua….Bernafaskan bangkai itu membentuk Tyahos sebagai keledai tua
Matanya terbuka hanya menjilat njilatkan lidahnya agar mendapat setetes hujan
Kancil itu hanya heran sambil menapaki kakinya ke seberang
Dengan lompatannya ia bertemu gundukan batu yang tua dengan badak di bawahnya

Badak itu bertanaman, tumbuh mekar dan merekah
Punggungnya dapat dijumpai mawar melati yang melalang seolah mengejek akan kenyamanan
Matanya sipit seakan buta, susah akan melangkah dan Badak itu hanya bisa terdiam dan memakan lumut sekitar
Kancil itu terheran hanya gundukan tua…apakah ada yg salah dengan hutannya

Hutan hanyalah tua…menyajikan keutamaan serta simbolnya dihadapan kancil
Tabiat serta gerakan kancil terekam baik….hutan ini rumah sekaligus tuan sesungguhnya
Gerakan senyuman apapun itu kita hanya lah apa yang ada di dunia ini
Bercermin mengolok menghina itu tabiatmu tapi bukan tabiat kemuliaan tercermin

Kadang jahat terlalu mudah menerpa tak lihat kawan ataupun musuh
Ringan terbawa menginjak kebaikan yang lugu didepan mata
Langkahkan kakimu ke batu batu mungil yang suci
Walaupun luka didapat tapi nikmat abadi bisa terpenuhi

(ans)


Airlangga Nala Siswanto

Seorang mahasiswa yang biasa aja dan seorang duafa di negeri yang bernama Jember, dan mungkin berprofesi sebagai Tukang Sunat di masa depan, Cinta akan kedamaian...lahir di negeri Osing Banyuwangi dan memiliki impian untuk berguna bagi orang lain....Cieee Apa iya?....Penulis ini memiliki citra humor walaupun banyak garingnya....maka dari itu hargai ya soalnya kasian....Hobi penulis ini adalah ngewibu, membaca, dan ke masjid....salam sukses dan salam baca, yang penasaran bisa ngemail ke :airlangganalas@gmail.com atau kalo mau stalking di Ig: airlanggasiswanto (jika follow minta aja follback pasti di follback...maksa banget yak) itu aja makasih yak Uda ngerelain mbaca biodata gua yang nggak penting ini

%d blogger menyukai ini: