Perlawanan Sengit

Halo pembaca The Coco Post Indonesia. Kembali lagi di edisi “Sejarah Dunia Hari Ini”.

5 tahun sebelumnya, Alexander I dan Napoleon Bonaparte menyepakati Treaty of Tilsit. Salah satu isinya mewajibkan Rusia menerapkan continental system. Kebijakan dagang bagi seluruh negara Eropa daratan untuk mengembargo musuh terkuat Prancis, Britania Raya.

Embargo dipilih karena ketergantungan Inggris pada perdagangan. Serta kemustahilan agresi militer Prancis atas “pulau kecil” itu.

Karena Rule Britania, Britania Rule The Waves!

Pertempuran Trafalgar adalah buktinya. Semenjak itu superioritas Royal Navy adalah mutlak. Tak ada yang berani menantangnya lagi. Lantas, apakah continental system ampuh?

Nyatanya justru daratan Eropa yang paling banyak menderita. Inggris bisa berdiri sendiri. Apalagi Inggris memiliki banyak koloni mulai dari Karibia sampai India.

Maka dengan sengaja, Rusia tidak mengindahkan perjanjian itu pada 1812. Rusia adalah negara besar. Untuk apa harus mematuhi keinginan negara yang lebih kecil nan jauh di barat sana?

Ini sungguh berani.

1812, Prancis adalah negara adikuasa. Pengaruhnya terbentang mulai dari Benelux hingga Polandia. Berang akibat tingkah pongah Rusia, Napoleon memutuskan memberinya pelajaran.

685 ribu infrantri, 1.393 artileri dan 200 ribu kavaleri. Jumlah yang fenomenal pada zaman itu. Tujuannya membuat Rusia menyerah dengan cepat. Sayangnya Rusia amatlah luas. Pasukan yang besar itu lambat laun tidak lagi efektif.

Menyadari hal itu Tsar Alexander menerapkan taktik bumi hangus. Masalahnya taktik ini dianggap tindakan pengecut oleh para jenderal Rusia. Akhirnya, gerak maju pasukan Napoleon dihadapi di area yang jaraknya hanya 3 km dari Moskow, di Borodino.

Pertempuran ini menunjukan kegigihan yang luar biasa dari prajurit Rusia. Namun, Prancislah yang keluar sebagai pemenang. Dengan harus menanggung beban yang sangat tinggi: logistik menipis saat mendekati musim dingin.

Terlepas dari itu, pasukan Napoleon terus bergerak hingga menguasai Moskow. Tapi Rusia adalah Rusia. Daya juangnya kokoh & mengesankan.

Insiden itu menjadi api dalam Perang Partiotik 1812.

Termasuk Fall of Paris (1814).

(fmi)

Fadel M. Irfan

Seorang jurnalis pertanian. Yang juga sangat senang sejarah.

%d blogger menyukai ini: