Pasir Bambang

(Fadel M Irfan)

Thecocopost.id-MALANG, INDONESIA. Sudah 2 minggu saya tidak menulis. Padahal sudah janji.

Sibuk lebaran dan menyambung silaturahmi dengan keluarga. Maafkanlah diri saya bagi yang kangen tulisanku.

Taqaballahu Minna Waminkum. Semoga kesalahan saudara semua diampuni oleh Yang Maha Kuasa.

Tulisan ini sebenarnya berat. Manajemen Sumberdaya Alam di Desa. Tapi saya buat seringan mungkin. Topik ini yang akan saya investigasi nantinya, saat magang yang berasa penelitian skripsi itu. Temanya tentang penambangan pasir di Desa Bambang dan hubungannya dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar. Desa Bambang masuk wilayah Wajak, Malang.

Topik ini sebenarnya klise. Banyak diteliti, dan banyak pula hasil yang sudah disarankan. Kalau manajemen sumberdayanya baik, pasti pendapatan masyarakat ikut meningkat. Begitu prinsipnya.

Tapi, eksekusi itu, di lapangan, susahnya bukan main.

Susah karena tidak mau. Terlalu banyak kepentingan. Dan banyak pula pihak yang bermain di dalamnya. Termasuk tambang pasir di Desa Bambang. Yang lokasinya ada di Sungai Sumberbulu. Yang masuk Daerah Aliran Sungai Berantas.

Disinilah masalahnya. Karena letaknya ada di kawasan DAS.

Kalau terus saja pasir itu dikeruk, bisa-bisa terjadi pengendapan. Akan sangat berbahaya bagi pasokan air di kota-kota besar di Jawa Timur, khususnya Malang Raya.

Enak juga sebenarnya. Tinggal ngeruk lalu dijual. Galian C (pasir) memang dibutuhkan dimana-mana. Untuk bahan bangunan. Bisnisnya praktis terus menguntungkan lagi, namun sarat akan konsekuensi lingkungan.

Sebenarnya sudah ditemukan solusi agar masyarakat tidak menambang lagi. Sumberbulu bagian atas akan dibuat agroforestri. Tanamannya mulai dari sengon, alpukat, kopi, sampai nangka. Saya bahkan sampai menulis tersendiri yang soal nangka (Ekspedisi Nangka 1 dan Ekspedisi Nangka 2).

Agroforestri ibarat sapu jagat. Tanamannya tahunan, harga jualnya tinggi, dan komoditasnya macam-macam. Mengoptimalkan potensi lahan sekaligus bisa sebagai aset petani. Inisiatif yang bagus. Bagus sekali.

Tapi sayang, dari informasi yang saya terima, masyarakat sudah gandrung untuk menambang. Belum berkenan dilakukan agroforestri.

Lho ada apa ini?

Tunggu saja sambungannya. Tanggal 29 Juni nanti.

Saya saja belum lihat langsung.

Maklum, masih lebaran.

(fmi)

Fadel M. Irfan

Seorang jurnalis pertanian. Yang juga sangat senang sejarah.

%d blogger menyukai ini: