(OPINI) Darurat Tawuran Anak Bangsa

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kekhawatiran yang paling saya benci adalah apatis atau tidak memikirkan apapun tentang negaranya. Ini miris karena mereka memakan kekayaan negara dengan tak ada rasa memiliki untuk suatu negara. Ini masalah kompleks karena stigma dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi, tapi langkah individual merupakan pijakan penting karena dimulai dari diri sendiri kita bisa merubah bangsa ini. Setidaknya kita harus cinta dan memikirkan mengapa kita disebut rakyat Indonesia.

Airlangga Nala Siswanto – Journalist on Duty The Coco Post Indonesia

Thecocopost.id-JEMBER. Saya menulis ini karena pertama memberikan argumen saya terkait situasi politik saat ini. Saat kita mendengar politik, pasti stigma yang keluar dan berbicara tentang stigma tentunya sangat tidak enak untuk didengar. Karena, politik diidentikan dengan korupsi atau hal negatif saja. Padahal politik adalah hanya suatu cara agar menyelesaikan masalah politik itu. Di mulai dari kita sendiri, sebenarnya seperti organisasi yang kita masuki dan kalian masuk seperti menjadi anggota, tentu itu merupakan suatu politik, namun skalanya kecil. Begitu juga pemilihan ketua kelas juga seperti itu. Saya kira situasi yang ada di Indonesia adalah bukan masalah yang sepele karena anak muda atau generasi millenial, generasi Z, sampai generasi micin terbalut oleh pemikiran pragmatis, dan terjebak oleh pemikiran-pemikiran hedonisme.

Fenomena yang hadir saat ini, yang saya lihat adalah mahasiswa. Mengapa mahasiswa? Karena saya bagian dari itu. Sekali lagi ini murni argumen penulis. Kembali lagi, saat ini banyak mahasiswa yang masih berorientasi pada kuliah saja. Padahal kuliah tak menjamin kesuksesan apalagi peduli bangsa saat ini. Populasi mahasiswa saat ini adalah kupu-kupu, kura-kura atau kutu-kutu. Kok jadi nama binatang ya? Ya, itu suatu singkatan saja yaitu pertama kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) ini adalah mahasiswa yang hanya berutinitas konstan tanpa mengikuti ekstrakurikuler atau kegiatan lain selain kuliah. Kura-kura adalah mahasiswa yang kuliah rapat-kuliah rapat. Kerjaannya rapat mulu katanya, atau kuliah tidur-kuliah tidur sampai tidur selamanya. Tentunya tidak, dan masih banyak hewan – hewan lain masih perlu disebutkan. Mereka cuma ingin satu, yaitu kesuksesan dan kehidupan yang lebih baik. Tapi apakah ini menjadi tolak ukur? Apa dengan IPK akan menjadi angka kesuksesan seseorang? Memang IPK menjadi penting, namun itu bukan suatu yang hanya dikejar. Lalu apa hubungannya dengan politik, tentu ini sangat berpengaruh karena orientasi mahasiswa saat ini karena pikiran-pikiran mahasiswa yang sangat pragmatis tanpa melihat sendi-sendi yang ada di lingkungannya dan mudah sekali terbakar emosi yang dikarenakan pemikiran dan fakta-fakta sempit yang membangun opini instan dan mudah terombang ambing.

Mungkin, kita akan bertanya hanya FISIP yang berfikir untuk negara. Padahal kita berpijak pada tanah Indonesia yang sama dan fakultas di dunia bukan hanya FISIP, tapi terdapat fakultas sains, teknologi, bahasa, bahkan pariwisata, serta agama. Mahasiswa merupakan agent of change yang diharapkan dapat mengubah negara ini, tapi seakan-akan pemikiran kaum muda terlalu indah memikirkan kesuksesan tanpa melihat persoalan sosial. Dalam tulisan ini, bukan masalah menyalahkan mahasiswa atau tidak, namun ini merupakan permasalahan dan saya berpikir bahwa seharusnya mahasiswa sudah mulai membuka dimensi pemikiran yang progresif untuk bangsa ini. Berawal mencari informasi yang benar dan dilandasi pemikiran nasionalisme yang sudah ditanamkan sejak kita TK, SD, SMP bahkan SMA. Melakukan kajian-kajian juga sangat penting, banyak hal yang bisa ditemukan dan dirasakan pada akhirnya seperti menambah wawasan dan jaringan nantinya jika kita ikut andil dalam kegiatan-kegiatan kepemudaan seperti karang taruna dan kegiatan lain. Kekhawatiran yang paling saya benci adalah apatis atau tidak memikirkan apapun tentang negaranya. Ini miris karena mereka memakan kekayaan negara dengan tak ada rasa memiliki untuk suatu negara. Ini masalah kompleks karena stigma dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi, tapi langkah individual merupakan pijakan penting karena dimulai dari diri sendiri kita bisa merubah bangsa ini. Setidaknya kita harus cinta dan memikirkan mengapa kita disebut rakyat Indonesia. 

(ans)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Airlangga Nala Siswanto

Seorang mahasiswa yang biasa aja dan seorang duafa di negeri yang bernama Jember, dan mungkin berprofesi sebagai Tukang Sunat di masa depan, Cinta akan kedamaian...lahir di negeri Osing Banyuwangi dan memiliki impian untuk berguna bagi orang lain....Cieee Apa iya?....Penulis ini memiliki citra humor walaupun banyak garingnya....maka dari itu hargai ya soalnya kasian....Hobi penulis ini adalah ngewibu, membaca, dan ke masjid....salam sukses dan salam baca, yang penasaran bisa ngemail ke :airlangganalas@gmail.com atau kalo mau stalking di Ig: airlanggasiswanto (jika follow minta aja follback pasti di follback...maksa banget yak) itu aja makasih yak Uda ngerelain mbaca biodata gua yang nggak penting ini

Tinggalkan Balasan