Nasib Subsidi Pupuk

Thecocopost.id-Isu ini memang sudah lama sekali mengemuka. Jujur, saya sampai bosan membahasnya. Tapi momen inilah yang paling mendekati kenyataan. Tidak wacana-wacana lagi.

Adalah pimpinan Komisi IV DPR dari Probolinggo. Namanya Hasan Aminuddin yang “berjasa” menjadikan pencabutan subsidi pupuk ini tidak lagi sebuah isu. Ia mendesak pemerintah untuk segera merealisasikannya.

Alasannya pun sangat kuat. Subsidi pupuk yang selama ini terjadi adalah sebuah inefisensi. Ini menarik untuk dibahas. Namun yang lebih menarik lagi adalah subsidi pupuk dinilai hanya memanjakan petani & tidak mendidik.

Wahaha. Baru kali ini ada statement anggota parlemen yang saya sukai. Maka, izinkan saya menjelaskan. Pertama mengenai inefisiensi. Subsidi pupuk memerlukan biaya yang sangat besar.

Nilainya pun tak main-main, yakni 18-20 triliyun rupiah. Penting untuk dipahami. Motivasi pemerintah untuk rela mengeluarkan biaya sebesar itu hanyalah peningkatan kapasitas produksi. Sakjane hal itu bisa terwujud.

Angka subsidi yang begitu tinggi memang di-karepno bisa selaras dengan peningkatan produksi. Tapi karep’e seringkali berbeda dengan sakjane. Apalagi kalau sudah dibenturkan dengan nyatane. Wah-wah-wah.

Berharap itu acapkali berbahaya. Terbukti, harapan pemerintah gagal tercapai. Sehingga memerlukan evaluasi. Inilah dasar dari argumen inefisiensi. Saya setuju.

Sedangkan masalah memanjakan petani dan tidak mendidik lebih diakibatkan perilaku mereka sendiri. Bayangkan, pupuknya disubsidi. Itupun pupuk kimiawi, maka praktek GAP dalam berbudidaya mustahil untuk tercapai. Padahal peningkatan produksi diperoleh dari hasil model budidaya yang benar.

Maka, mengutip pernyataan Rektor IPB terdahulu, subsidi input harus diganti menjadi subsidi output. Daripada pupuk, lebih baik harga panennya yang subsidi. Sehingga petani bisa ikut “perhitungan” yang akan membuat mentalitas bisnis petani Indonesia bisa terasah.

Apa yang mereka tanam harus bisa menghasilkan keuntungan. Dan harus seefisen mungkin. Ini pasti seru. Tak terkecuali bagi BUMN Pupuk. Yang strategi marketing nya sakjane harus mengalami transformasi.

(hvm)


Helmuth von Moltke

A Preußen Feldmarschall

%d blogger menyukai ini: