Naik dan Sedikit

Pedagang di pasar. (Fadel M Irfan)

Thecocopost.id-MALANG. Tumben. Klaim pemerintah begitu percaya diri. Kata pemerintah beberapa hari ini: Kalau diperhatikan pasokan pangan terbilang aman.

Tapi mohon maaf, saya kurang yakin. Saya coba cek tiga hari lalu di pasar induk Karangploso dan di Pasar Mergan. Yang keduanya ada di Malang. Sayangnya realitanya berbeda. Masih penasaran, saya iseng tanya-tanya ke bakul pasar. Banyak sekali yang saya tanya.

Jawabannya sama: “Sudah biasa mas”

Sudah biasa itu barangnya (suplai) sedikit tapi harganya naik. Biasa di bulan Ramadhan sampai menjelang hari raya. Menarik, kok bisa begitu ya?

Sebenarnya bagus klaim pemerintah yang percaya diri itu. Pasokan pangan aman. Harga terkendali. Memberikan kepercayaan pada publik bahwa pemerintah mampu dan bisa mengontrol pangan. Yang jadi hak dasar warga negaranya. Tetapi, itu masih perlu penjelasan. Tidak bisa hanya menggunakan infografis terus disebarkan ke dunia maya.

Dan saya sampai dengan tulisan ini dibuat juga masih belum menemukan penjelasannya. Kalau kata pakar: Pemerintah mengatakan “ini” tapi realitanya bisa saja “itu”. Yang dimaksud “itu” ya barangnya sedikit tapi harganya naik itu. Apalagi kalau di daerah-daerah seperti Malang ini. Yang jauh dari pusat pemerintahan.

Lho, kan ada dinas-dinas di daerah yang ngurusi “itu”. Pikiran saya yang lain menerka-nerka.

Tapi kok rasanya saya masih ada saja kecurigaan pada pemerintah. Kan kalau ada dinas-dinas, mestinya sudah ditemukan solusi permanen. Lama sekali. Sebelum kejadian “itu” dikatakan biasa tadi.

Dugaan saya, apa jangan-jangan ditimbun oleh oknum tertentu? Dan apakah oknum itu tadi bekerjasama dengan “orang-orang” yang dari dinas-dinas tadi untuk dapat keuntungan tertentu?

Entahlah. Dugaan itu belum terbukti dan saya harus pakai praduga tidak bersalah. Yang jelas, fenomena hari ini adalah: Harga barang naik tapi naiknya harga itu belum dinikmati orang yang “semestinya”.

Fenomena itu perlu jawaban yang detail. Tidak bisa hanya dijawab: Sudah biasa atau rantai pemasarannya panjang. Atau klise-klise khas ilmu Agribisnis.

Dan jawaban guyonanya: Mungkin karena Bulog lagi bertengkar dengan Kemendag.

(fmi)

Fadel M. Irfan

Seorang jurnalis pertanian. Yang juga sangat senang sejarah.

%d blogger menyukai ini: