Menjaga Marwah

MALANG (INDONESIA), Thecocopost.id- Sejak akhir Desember 2019, bahkan hingga sekarang — negara besar dari utara menerobos masuk ke wilayah kedaulatan kita. Menerobos ke Natuna yang merupakan wilayah ZEE kita. Pun menurut mereka aksi ini bukanlah penerobosan, melainkan hal yang wajar-wajar saja.

Mereka ini, dengan sangat congkak lagi keras kepala telah mengklaim Natuna berdasarkan Nine-Dash-Line. Sehingga, segala sesuatu yang terkandung di dalamnya adalah hak mereka. Termasuk fishing ground yang dijarah nelayan sembari dikawal coast guard mereka.

Begitulah drama Natuna ini bermula. Lantas, Indonesia sudah melakukan apa? Sejauh ini yang baru nampak ada 2: protes diplomatik dan mengirim kapal perang TNI AL & BAKAMLA.

Apakah mempan? Ternyata belum. Terlihat bahwa Angkatan Laut kita memang belum memiliki efek gentar yang luar biasa seperti zaman Bung Karno dulu.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya hanya satu: kita terlalu lama memunggi laut. Itu saja. Ironisnya, praktek ini dilakukan oleh negara kepulauan terbesar di dunia.

Ambil contoh kapal BAKAMLA saja, yang merupakan garda terdepan untuk menjaga kedaulatan kita (utamanya di ZEE) ternyata hanya 22 jumlahnya. Ini sangat jauh dari kata ideal yang harusnya berjumlah 225 unit. Sungguh menyedihkan.

Bukankah sejarah kita telah mengajarkan, bahwa Majapahit dahulu adalah kerajaan berbasis maritim? alias Thalassocracy Penting untuk diketahui bahwa pada masa Majapahit, Nusantara dijaga 5 armada tempur!

Lancarcell

Kini, dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya pada TNI AL, jumlah armada kita hanya 3. Jadi ayolah pemerintah, jangan sesekali melupakan sejarah. Maka sebagai warga negara biasa saya mohon agar mulai detik ini, Indonesia harus menghadap ke laut!

Jadikan insiden Natuna di awal tahun ini sebagai cambuk. Tidak usah terlalu banyak berwacana. Bekerjalah yang fokus dan berikan bukti konkrit demi kegemilangan maritim Indonesia. Saya selalu meyakini kalau negara kita ini pasti bisa menjadi Command of The Sea di Asia Tenggara.

Ingat: Jalasveva Jayamahe!

Justru di Laut, Kita Jaya!

(fmi)

Fadel Irfan

Agricultural Journalist Who Loved History

error: Artikel Ini Dilindungi
%d blogger menyukai ini: