Mengkopikan Kopirejo

(Fadel M Irfan)

Ini adalah area yang berada di Dusun Pandanrejo. Lokasinya masih di Desa Bambang, Wajak-Malang.

Pandanrejo adalah kunci. Bagi agenda proyek CCCD maupun skripsi saya. Saya harus paham diluar kepala tentang apapun di Pandanrejo. Semangat yang harus saya jaga dengan rekoso. Lokasi area ini mengharuskan motor untuk naik. Jalannya tidak beraspal. Pun tidak makadam. Tapi pasir.

Harus banyak sabarnya. Apalagi kalau naik motor matic seperti saya. Ampun-ampun. Untungnya rekoso itu terbayarkan setelah berhasil naik. Pemandangannya menakjubkan. Hamparan hutan dan ladang jagung berterasiring. Memanjakan mata. Memang, setelah kesulitan selalu ada kemudahan.

Saya sengaja nyeleneh. Atasan baju berkerah ditambah jaket, bawahannya bersarung. Lihatlah di foto. Agar isis!

Di foto itu saya berbincang dengan Pak Erinanto. Biasa dipanggil Pak Erin. Menjabat Kepala Urusan Perencanaan Desa Bambang. Usianya 52 tahun. Bicaranya pintar dan panjang. Dan Alhamdulillah, kecakapannya itu dibarengi dengan etos kerjanya yang rajin. Jarang-jarang ada manusia seperti Pak Erin. Biasanya kan berat sebelah.

Kami mendiskusikan dua hal yang sangat penting. Prospek Dusun Pandanrejo dan sejarah kopi di area ini. Mulanya kopi di Desa Bambang ada akibat kebijakan Kolonial Belanda bernama tanam paksa. Moncer dengan sebutan Cultuurstelsel.

Kebijakan yang intinya mewajibkan petani menanam komoditas berharga tinggi. Kopi, karet, cengkeh, tebu, dan tembakau. Dalam kebijakan itu, komoditas tadi wajib ditanam di 60% lahan milik petani. Di lapangan, sebagian besar lebih dari itu. Sejarah mencatat di Cirebon dan beberapa daerah di Jawa Tengah, presentase penanaman bisa mencapai 100%.

Itu semua berhasil membuat Belanda sugih. Arus kasnya berhasil seimbang. Untuk kali pertama setelah satu dekade selalu minus akibat perang dan bayar utang. Dilain pihak, tanam paksa membuat petani kita mlarat dan kelaparan. Karena tidak bisa lagi menamam padi.

Bayangkan, anda punya lahan tapi tidak punya otonomi untuk memilih komoditas jenis apa yang hendak ditanam. Pun ketika panen, hasil yang seharunya anda nikmati malah disetor ke orang lain. Dipaksa menanam dan dipaksa menjual murah. Itulah tanam paksa. Sebuah sejarah kelam pertanian Indonesia.

Sisa-sisanya kini masih dapat ditemukan. Berupa tanaman perkebunan yang tersebar di seluruh pulau Jawa. Termasuk Bambang yang punya Kopi, dulu. Kini, kopi itu sayangya telah hilang.

Lho, kenapa bisa hilang?

Apa hubungannya dengan Kopirejo?

Besok The Coco Post Indonesia masih tetap terbit. Paling tidak minggu depan. Sumpah!

(fmi)

Hits: 2

Bagikan:

Fadel M. Irfan

Seorang jurnalis pertanian. Yang juga sangat senang sejarah.

Tinggalkan Balasan