Mengenal Tiket dengan Sifat Persambungan

Foto: Suasana di jalur 6 Stasiun Surabaya Gubeng sesaat sebelum Kereta Api Mutiara Timur diberangkatkan. (Thecocopost.id/Lugas Destra Rumpakaadi)

Thecocopost.id-Banyuwangi. Berlibur dengan menggunakan jasa angkutan kereta api adalah salah satu hal yang menyenangkan. Bagaimana tidak, jasa angkutan ini selalu menyediakan pelayanan yang baik, tarif yang beragam, dan pastinya pemandangan indah selama perjalanan akan menjadi kesan tersendiri bagi yang menggunakannya.

Beberapa hari sebelumnya, saya melakukan perjalanan ke Purwokerto dengan menggunakan kereta api. Namun, karena tidak ada kereta api yang langsung menuju tujuan akhir, saya harus menunggu kurang lebih 4 jam di Stasiun Surabaya Gubeng untuk menunggu kereta api yang akan membawa saya ke Purwokerto.

Jika pembaca sekalian sudah membaca tulisan saya di ‘Random Blog’ yang berjudul ‘Laporan Perjalanan Banyuwangi-Purwokerto-Gresik’, maka pembaca akan menemukan bagian di mana saya harus menggunakan 2 kereta yang berbeda saat menuju Purwokerto. Pada saat itulah saya memiliki ‘Tiket dengan Sifat Persambungan’.

Definisi ‘Tiket dengan Sifat Persambungan’ menurut PT Kereta Api Indonesia (Persero) adalah suatu kondisi dimana jadwal kedatangan suatu moda transportasi lebih awal dari jadwal moda transportasi lanjutannya sehingga memungkinkan bagi penumpang untuk melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi lanjutannya tersebut setelah transit di suatu tempat. Berdasarkan definisi itu, maka perjalanan saya dari Banyuwangi menuju Surabaya adalah moda transportasi yang datang lebih awal daripada kereta api yang membawa saya menuju ke Purwokerto dari Surabaya. Sedangkan Surabaya adalah tempat transitnya.

Kembali lagi ke tulisan saya di ‘Random Blog’ yang berjudul ‘Laporan Perjalanan Banyuwangi-Purwokerto-Gresik’, saya menulis membutuhkan waktu transit ‘kurang lebih 4 jam’. Empat jam adalah waktu yang cukup lama bagi penumpang yang hanya transit saja. Namun, mengapa saya memutuskan menunggu selama itu?

Alasannya adalah mengantisipasi kemungkinan keterlambatan yang dilakukan oleh kereta api yang membawa saya dari Banyuwangi menuju Surabaya. Bahkan, imbauan antisipasi ini juga disosialisasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui akun Instagram resminya @kai121_ yang berbunyi, “PT Kereta Api Indonesia (Persero) tidak menyarankan kepada para penumpang untuk membeli tiket yang bersifat persambungan bila mana selisih waktu kedatangan kereta api sebelumnya dengan keberangkatan kereta api lanjutannya kurang dari 3 jam.”

Selanjutnya, bagaimana kebijakan PT Kereta Api Indonesia (Persero) jika memiliki ‘Tiket yang Bersifat Persambungan’ namun ternyata kereta api yang ditumpangi sebelumnya mengalami keterlambatan? Dalam akun Instagram resminya, PT Kereta Api Indonesia menuliskan, “Jika kereta api yang dinaiki sebelumnya mengalami keterlambatan 3 jam lebih sehingga penumpang tertinggal kereta api lanjutannya maka tiket dapat dibatalkan dengan pengembalian bea secara tunai langsung sebesar 100% dari harga tiket diluar bea pesan jika ada. Sedangkan jika keterlambatannya kurang dari 3 jam, maka tiket dianggap hangus dan tidak ada pengembalian bea angkutan.”

Oleh karena adanya aturan tersebut, maka ada baiknya kita sebagai penumpang yang memiliki ‘Tiket dengan Sifat Persambungan’ sebaiknya memiliki rentang waktu yang direkomendasikan oleh perusahaan yaitu 3 jam. Selain dapat terhindar dari risiko ketinggalan kereta api selanjutnya, kita juga bisa menikmati liburan dengan nyaman hingga ke tempat tujuan. (ldr)

Lugas Rumpakaadi

Penggemar kereta api yang suka sambat di Twitter.

error: Artikel Ini Dilindungi
%d blogger menyukai ini: