Mencari Kehangatan di Soto Abah Ngali

Fadel M. Irfan

Selama ini saya selalu menulis topik yang berat. Pun disertai bahasa yang serius. Bahkan sangat serius menurut Chief Editor saya.

Baiklah, maka kali ini saya mencoba peruntungan baru, mengulas kuliner. Dan peruntungan itu pas datang kemarin malam, haha.

Begini bro, kemarin malam itu adalah penentuan hasil color grading film pendek yang kugarap sejak lama. Alhamdulillah, hasilnya bikin puas luar biasa.

Bersyukur. Melegakan. Yakin. Tinggal Tawakkal setelah ini.

Saking senangnya sampai lupa, dari pagi perut ini hanya diisi Indomie goreng pake telor.

Pulang larut malam, tidak pakai jaket dengan perut keroncongan. Perpaduan sempurna untuk memperlihatkan diri yang koclok ini.

Saya butuh kehangatan. Dinginnya keterlaluan!

Kehangatan yang saya bayangkan hanyalah tidur berselimut. Bayangan itu lalu sirna saat melihat gerobak soto yang mencolok di kanan jalan.

Uwaaaah! Cocok iki. Saya yang dari tadi meniteninya dari jauh sontak saja langsung menyamperinya.

“Mas, pesan satu ya. Campur”

Sejurus kemudian semangkuk soto khas Lamongan ada di depan saya. Dagingnya berasal dari ayam kampung. Gurih sekali. Kuahnya juga begitu, sedap dan segar. Saya akui, soto ini punya cita rasa khas tersendiri.

Selebihnya, tempat ini seperti warung soto pada umumnya. Nama warungnya Soto Abah Ngali.

Buat ukuran mahasiswa, Soto Abah Ngali termasuk generous dalam memberikan porsi daging. Ditambah lagi semangkung sotonya dihargai 17 ribu saja. Sungguh menyenangkan hati.

Bila sahabat pembaca The Coco Post Indonesia ingin mencobanya, soto maknyus ini ada di Jl.. Jaksa Agung Suprapto No.64 A-B, Rampal Celaket — Kota Malang.

(fmi)

Fadel M. Irfan

Jurnalis pertanian yang sangat senang sejarah.

%d blogger menyukai ini: