Masbro Rio

Nama lengkapnya Rio Sunarto Putra.

Perawakannya gagah. Tingginya 178 cm. Usianya baru 21 tahun. Wajahnya putih bersih. Ganteng. Tapi masih jomblo kinyis-kinyis. Hahaha.

Rio sosok pemuda desa istimewa.

Pemilik KSU Sumber Abadi. Tempat penampungan dan pendingin susu. Juga satu-satunya tempat kepercayaan bagi seluruh peternak Bambang untuk menjual susunya.

KSU Sumber Abadi adalah usaha warisan almarhum ayah Rio. Berdiri sejak 2006 dengan modal awal sebatas kepercayaan. Fenomena yang mulai langka.

Mula-mula tempatnya hanya sewa. Alat-alat yang tersedia banyak dari bantuan dinas. Karyawannya hanya dua: ayah Rio dan koncho-nya dari Turen bernama Idham.

Pada Oktober 2010, Sumber Abadi sudah berhasil balik modal. Tahun-tahun berikutnya pesanan mulai banyak berdatangan. Terutama dari pabrik pengolahan susu.

Sumber Abadi sedang berada di zona nyaman. Nikmat memang. Hingga kenikmatan itu menjadi ketergantungan terhadap IPS (Industri Pengolahan Sapi). Semua susu segar hasil tampungannya dijual hanya ke satu tempat IPS. Yang dibayar 10 hari sekali. Secara kontan.

Akhirnya, datang tahun 2014. Pemerintah mengambil kebijakan kontroversial. Membuka kran impor susu bubuk sejumlah 2,61 juta ton. Bila dipresentase, angka itu mencakup 80% kebutuhan nasional bahan baku bagi IPS.

Kebijakan itu diambil lantaran pasokan dalam negeri tidak mencukupi. Alasan yang klise. Bagi orang yang paham, motivasi pemerintah tak hanya sebatas itu.

2014 adalah tahun politik. Anda tahulah — mafia pangan. Memainkan impor agar jumlahnya besar hingga mengganggu kestabilan harga.

“Mereka” tentu sangat gembira. Mendapat duit besar dengan amat mudah untuk ongkos politik. Tapi yang harus menanggung konsekuensinya adalah para produsen. Yang tekor banyak akibat kelakuan “mereka” ini.

Tekor pula bagi Sumber Abadi. Truk-truk IPS yang biasa hilir mudik mengangkut susu segar berkurang drastis. Tergantikan susu bubuk impor yang murah.

IPS sebenarnya menghadapi dilema. Tapi bisnis adalah bisnis. Lebih baik merelakan hubungan yang telah lama terjalin daripada keluar biaya bahan baku lebih mahal. Atas nama margin dan keuntungan.

Begitulah dunia usaha. Keras.

Pada 2014 pula ayah Rio jatuh sakit. Pola hidupnya menjadi tidak terkontrol. Begitu juga dengan pikirannya. Ayahnya jadi sering melamun dan bicara sendiri.

Sumber Abadi juga sakit-sakitan. Biaya overhead-nya membengkak. Arus kasnya kacau. Gaji karyawan sebanyak 12 orang ditunggak. Sampai banyak peternak beralih menjual susunya ke tempat lain.

Naas. Ayah Rio dipanggil Yang Mahakuasa 3 tahun setelahnya.

Banyak pihak yang berduka atas tragedi itu. Apalagi ayah Rio masih meninggalkan piutang sebanyak 120 juta. Sampai-sampai Kepala Desa Bambang membuat woro-woro untuk patungan.

Dan dititik inilah saya kagum setengah mati pada Rio. Ia menolak tawaran itu. Seminggu setelah ayahnya wafat Rio berangkat ke rumah teman almarhum ayahnya, Idham.

Rio harus paham permasalahan Sumber Abadi. Sejelas-jelasnya

Ternyata semua berawal dari tidak rincinya pembukuan yang ada. Pengeluarannya berlebihan. Dana darurat juga tidak ada. Dan tentu saja, ketergantungan pasar pada IPS.

Masalah ini bisa diatasi. Tapi harus dengan strategi. Tahap demi tahap. Sumber Abadi harus mencari pasar lagi. Dan harus diversifikasi.

Rio berkeyakinan: “Pokoknya pasar dulu. Kalau sudah ketemu jangan berhenti. Cari lagi. Sebanyak-banyanya. Sampai kita kewalahan. Urusan produksi gampang. Kan tinggal menampung”.

Kesimpulan Rio, tanggungan Sumber Abadi ada dua: melunasi piutang & mencari pasar baru. Ia memilih menyelesaikan masalah yang pertama dulu.

Senin pagi, tepat pukul 6, ia datangi rumah yang memberikan piutang itu — Pak Anshori. Rio datang sendiri. Ia perkenalkan dirinya pelan-pelan.

Setelah semuanya jelas baru ia masuk ke inti permasalahan. Rio meminta agar tempo pembayarannya diundur. Ia jelaskan tekadnya memperbaiki Sumber Abadi. Termasuk strategi dan komitmennya.

Pak Anshori hanya tersenyum. Ia lalu meninggalkan Rio di ruang tamu sendirian. Selang beberapa lama, Pak Anshori membawa istrinya. Mereka berdua setuju agar diundur menjadi satu tahun dari jatuh tempo semula.

Piutang beres. Meskipun masih menjadi beban.

Rio pulang dengan senang. Dan saat perjalanan pulang itulah ia melihat ada selebaran brosur tercecer dekat Balai Desa Bambang. Brosur itu berisi pelatihan usaha sapi perah. Yang bekerjasama dengan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB).

Tertulis, pelatihannya di Laboratorium Lapang Sumbersekar milik Fapet UB. Diadakan 2 minggu lagi. Dengan biaya cuma-cuma disertai pendampingan.

Urrraa! Semangat Rio bergelora.

Pasar barunya adalah BDI (Brawijaya Dairy Industry). Milik kelompok ternak Kecamatan Dau & Fapet UB. Moncer dengan produk yogurt dengan merk Brady. Serta sedang sedang membutuhkan banyak sekali pasokan susu segar.

Pas! Rezeki Tuhan memang datang dari tempat yang tak diduga-duga. Dua persoalannya utamanya beres dalam sehari.

Rio kemudian memulai Sumber Abadi dari titik nol lagi. Ia perbaiki pembukuannya lewat excell. Ia pisahkan antara uang pribadi dan usaha dengan sangat teliti.

Strategi lainnya adalah mengoptimalkan aset untuk menambah pendapatan. Maupun meminimalkan pengeluaran.

Contohnya listrik di Sumber Abadi. Yang kesemuanya berasal dari biogas kotoran sapi. Dulu biaya listrik untuk mesin pendinginnya bisa mencapai 19,3 juta per bulan. Kini hanya 0 alias gratis-tis-tis.

Soal pakan, ia menyulap lahan bekas tambang pasir milik keluarganya untuk ditanami rumput odot dan gajah. Dijualah rumput-rumput itu untuk mengakomodir kebutuhan kelompok ternak di Bambang dengan harga yang pantas.

Rio benar-benar berhemat. Termasuk pengeluaran pribadinya.

Tak lupa, ia sering turun ke peternak. Memberikan masukan-masukan tentang manajemen kandang dan pemberian pakan. Agar susu yang dihasilkan bermutu baik.

Sumber abadi kini sudah sehat kembali. Jangkauan pasarnya telah melebar ke 16 lokasi. Tidak lagi satu tempat. Meskipun karyawannya cuma dua orang. Rio sendiri dan Pak Idham.

Rio memberikan kesan yang sangat positif. Ia memang seorang pahlawan. Bagi martabat keluarganya maupun ekonomi desanya.

Semoga Rio bisa memotivasi kita semua untuk menghadapi tantangan hidup. Yang, memang semakin berat namun tidak mustahil untuk diselesaikan.

Bisa saja. Cerita perjuangan Rio dijadikan ide film. Suatu saat nanti.

(fmi)

Fadel M. Irfan

Seorang jurnalis pertanian. Yang juga sangat senang sejarah.

%d blogger menyukai ini: