Masalah Banjir

MALANG (INDONESIA), Thecocopost.id– Awal 2020 dunia dikejutkan dengan serangkaian peristiwa besar. Nahas, mayoritas peristiwa itu tendensinya mengarah ke hal negatif.

Indonesia pun tak ketinggalan. Pada awal tahun, ibukota yang (masih) berada di Jakarta terkena banjir. Bencana yang berulang kali terjadi.

Saya mencoba maklum dengan itu. Hujan deras memang sebuah kecenderungan. Dan intensitasnya selalu meningkat setiap tahun di wilayah DKI.

Banjir memang bencana yang tak bisa dihindari. Khususnya di wilayah dataran rendah. Hanya saja, yang sukar saya pahami adalah lamanya penanganan & sentimennya.

Sebagai arek Jatim saya mengaku gagal paham. Coba bandingkan dengan kondisi banjir di Surabaya.

Kompas

Tingkat parahnya sudah apple to apple. Menariknya, air bah di Surabaya bisa surut hanya dalam waktu 3 jam. Nah, banjir di Jakarta ini ceritanya lain lagi lur.

Air bah bisa tergenang berhari-hari. Menurut Agrakoncho yang tinggal di Bekasi, banjir tahun ini adalah terparah secara historis. Yang ketinggian airnya sudah mencapai 3 meter.

Lho, tapi kan Surabaya bisa cepat surut? Entahlah, saya tidak boleh berspekulasi yang aneh-aneh. Orang Jabodetabek lah yang paling tau.

Terlepas dari itu, menurut saya banjir DKI ini mestinya sudah lewat.

Lha wong anggaran di pusat kan jauh lebih besar daripada di daerah. Dan mestinya, penanganannya ya jangan business as usual. Harus terpadu dengan 3 perspektif sekaligus: ekologi, teknis, dan sosial.

Bekerjalah yang konkrit & semaksimal mungkin. Terakhir, berkolaborasilah dengan orang-orang LIPI. Mereka paham betul soal forecasting cuaca.

Tapi, apa boleh buat? Ilmu pengetahuan rupa-rupanya kalah dengan sentimen politik. Yang selalu dibawa saat banjir DKI terjadi.

Hujat-menghujat itu masih terjadi. Ejekannya saja yang berubah. Dari cebong vs kampret menjadi kutu babi vs kadrun (kadal gurun).

Ya sudah, nikmati saja. Itulah realita politik saat ini. Ironis memang, kebenaran ilmiah kalah dengan gengsi politik.

Dari Jatim, saya cuma bisa ngelus dodo.

(fmi)

Helmuth von Moltke

A Preußen Feldmarschall

error: Artikel Ini Dilindungi
%d blogger menyukai ini: