Local Pride dan Depresiasi Rupiah

Thecocopost.id-MALANG. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) rupanya menjadi isu yang tidak ada habisnya dibahas. Mulai dari kalangan masyarakat biasa, ekonom, hingga pemerintah menyuarakan pendapatnya mengenai isu ini. Masing-masing dari mereka memiliki sudut pandangnya sendiri-sendiri mengenai isu ini. Pertanyaannya, apa sebenarnya penyebab dari depresiasi nilai tukar rupiah ini?

Depresiasi dan Penyebabnya

Ilustrasi depresiasi. (Maxmanroe.com)

Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu mengenai depresiasi. Depresiasi secara umum dapat diartikan sebagai menurunnya nilai mata uang di suatu negara terhadap mata uang acuan (dalam hal ini dolar AS). Menurunnya nilai mata uang ini bisa diakibatkan oleh 2 faktor yakni dari internal (dalam negeri) dan eksternal (luar negeri). Lawan dari depresiasi adalah apresiasi, yakni penguatan nilai mata uang di suatu negara terhadap mata uang acuan. Mengapa bisa terjadi apresiasi dan depresiasi?

Seperti halnya barang dan jasa yang diperdagangkan di pasar, uang juga diperdagangkan dalam pasar uang. Ekonom mendefinisikan pasar sebagai tempat bertemunya permintaan dan penawaran. Begitu juga dengan pasar uang, di dalamnya ada permintaan uang dan penawaran uang. Titik pertemuan antara permintaan dengan penawaran (ekonom mengistilahkan dengan titik ekuilibrium) inilah yang menjadi nilai tukar dari sebuah mata uang. Intinya, semakin tinggi permintaan akan sebuah mata uang, maka nilai tukar mata uang tersebut akan semakin kuat. Seperti halnya rupiah, semakin tinggi permintaan masyarakat untuk memegang rupiah, maka nilai tukarnya akan semakin tinggi. Jika kita asumsikan tidak ada faktor lain yang mempengaruhi selain permintaan dan laju ekonomi AS stabil, maka bisa dipastikan rupiah akan terapresiasi.

Mengutip dari Pengamat ekonomi Asian Development Bank Eric Sugandi dalam artikel yang diterbitkan Liputan6.com pada 4 September 2018, setidaknya ada beberapa faktor penyebab rupiah terdepresiasi, di antaranya:

  1. Faktor eksternal
  2. The Great Rotation 2008
  3. Kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed)
  4. Krisis keuangan emerging market di Turki dan Argentina
  5. Faktor internal
  6. Current Account Defisit (CAD)
  7. Kepemilikan asing di surat utang dan saham
  8. Distribusi likuiditas valuta asing (valas) yang tidak merata
  9. Perusahaan tak melakukan hedging

Beberapa faktor di atas adalah beberapa penyebab rupiah terdepresiasi. Kita sudahi dulu pembahasan ini dan menuju ke pembahasan berikutnya mengenai Local Pride.

Local Pride dan Pengaruhnya

Ilustrasi local pride. (Redaksiindonesia.com)

Setelah membahas mengenai depresiasi rupiah dan penyebabnya, kali ini mari kita bahas mengenai istilah local pride. Istilah ini, berdasarkan hasil perbincangan penulis bersama salah satu kontributor The Coco Post M. Bagas Widiyakto, merupakan sebuah kampanye yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang yang mengajak masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri. Kampanye ini giat dilakukan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa produk dalam negeri Indonesia tidak kalah saing dengan produk asal luar negeri.

Membicarakan tentang local pride, penulis teringat acara dokumenter yang ditayangkan oleh Deutshe Welle salah satu media asal Jerman yang berjudul “Too Much Milk in Europe”. Sebelumnya, penulis tidak akan membahas mengenai isi dari dokumenter ini, tapi hanya mengutip argumen salah satu responden yang saat itu diberi pertanyaan seputar susu yang akan dipilih saat membeli di supermarket. Pada dokumenter tersebut, presenter menunjukkan dua produk susu yang berbeda merk. Kemudian, responden memilih salah satu merk tersebut. Saat ditanya mengenai alasannya, responden itu menjawab,  “Exactly, it’s from our region and I support local farmer,”. Dari pernyataan itu, bisa kita lihat bahwa responden tersebut menyatakan bahwa dirinya lebih menyukai produk lokal yang berasal dari negaranya untuk mendukung petani lokal. Jika pembaca penasaran dengan dokumenter ini, pembaca bisa melihatnya di tautan ini (https://www.youtube.com/watch?v=7KPWLSVn0ko).

Kemudian, apa bagusnya menggunakan produk lokal? Banyak orang mungkin bertanya-tanya seperti ini ketika ada orang yang merekomendasikan mereka menggunakan produk-produk lokal. Ini dikarenakan, pola pikir (mindset) masyarakat kita yang menyatakan bahwa barang luar negeri (impor) jauh lebih baik dan lebih murah daripada produk dalam negeri. Akibatnya, masyarakat Indonesia mayoritas akan lebih menyukai produk-produk luar negeri. Soal, mengapa harganya murah, penulis tidak akan membahasnya di sini, pembaca cukup melihat kasus yang ada di dokumenter yang telah penulis berikan tautannya. Di situ, pembaca dapat mengetahui alasan produk impor (dalam hal ini produk susu) bisa lebih murah.

Selanjutnya, apa pengaruhnya jika menggunakan produk lokal? Mungkin, produk lokal terutama dari Indonesia ada beberapa yang masih kalah saing kualitasnya daripada produk impor, tapi jika ditelusuri lebih dalam, sejatinya penggunaan produk lokal ini bisa membantu apresiasi rupiah. Kenapa bisa begitu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita lihat salah satu faktor internal penyebab depresiasi rupiah. Dalam hal ini, penulis akan memfokuskan pada Current Account Defisit (CAD) atau Defisit Transaksi Berjalan. Defisit transaksi berjalan adalah suatu istilah yang merujuk pada neraca perdagangan di suatu negara. Ketika nilai impor lebih tinggi daripada ekspor, saat itulah terjadi defisit transaksi berjalan. Sebaliknya, jika nilai ekspor yang lebih tinggi daripada impor, maka bisa disebut surplus transaksi berjalan. Apa penyebab terjadinya CAD?

CAD terjadi saat impor jauh lebih tinggi daripada ekspor. Penyebabnya bermacam-macam, salah satunya tingginya permintaan dalam negeri terhadap produk-produk luar negeri. Coba pembaca instropeksi diri, lebih suka menggunakan produk dalam negeri atau luar negeri? Bisa jadi karena tingginya permintaan dari masyarakat inilah yang menyebabkan terjadinya defisit. Terlepas dari itu, bisa jadi juga defisit ini disebabkan oleh banyaknya perusahaan yang melakukan impor bahan baku untuk memenuhi produksinya karena kekurangan bahan baku dalam negeri, ini tidak akan penulis bahas karena nanti akan melebar dari topik jika diteruskan. Jadi dalam hal ini, anggaplah jika CAD ini terjadi akibat tingginya permintaan masyarakat akan produk impor yang menyebabkan perusahaan atau pemerintah terpaksa mendatangkan dari luar negeri. Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi CAD?

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi CAD, jika kita melihat kebijakan pemerintah saat ini, mereka sudah membuat kebijakan tentang Revisi dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 34 Tahun 2017  tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor yang bertujuan untuk membatasi barang impor yang masuk ke Indonesia. Kemudian, ada juga kebijakan B20 di mana pemerintah mewajibkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk dicampur dengan biodiesel dari minyak kelapa sawit sebesar 20%, tujuannya untuk meningkatkan penyerapan kelapa sawit dalam negeri sebagai upaya stabilisasi harga sawit dunia dan mengurangi biaya mengurangi impor migas yang dilakukan pemerintah. Ada pula kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang bertujuan untuk membatasi penggunaan bahan baku produksi dari luar negeri. Kebijakan-kebijakan itu sepertinya memberikan hasil yang baik, karena per September 2018 lalu mengutip dari pemberitaan di CNN Indonesia pada 15 Oktober 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan surplus US$ 230 juta.

Selanjutnya apa yang bisa kita sebagai warga negara lakukan untuk membantu pemerintah mengurangi CAD? Jawabannya ada pada local pride. Kita perlu mengajak masyarakat Indonesia bangga menggunakan produk-produk lokalnya. Penggunaan produk-produk lokal bisa membantu para produsen dalam negeri untuk memperoleh keuntungan yang bisa digunakan oleh mereka untuk meningkatkan cakupan pasar dan meningkatkan kualitas produknya. Penggunaan produk lokal akan mengurangi permintaan akan produk impor. Secara tidak langsung jika produk impor kurang diminati, maka impor bisa ditekan sehingga tidak menyebabkan CAD.

Terakhir, jika CAD bisa dihentikan apakah benar-benar bisa membantu mengurangi depresiasi rupiah? Jawabannya bisa jadi, karena CAD hanya 1 faktor dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi depresiasi rupiah. Namun, perlu diingat bahwa CAD ini menjadi salah satu indikator bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Jika investor sudah percaya diri menanamkan modalnya di Indonesia, maka rupiah bisa terapresiasi kembali. Untuk itu, mari kita mulai mencintai produk-produk lokal kita untuk ekonomi Indonesia yang lebih baik. (ldr)

Lugas Rumpakaadi

Penggemar kereta api yang suka sambat di Twitter.

error: Artikel Ini Dilindungi
%d blogger menyukai ini: