Krawu

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

(Fadel M Irfan)

Ini adalah minggu terakhir saya berada di Gresik. Tempat saya tinggal. Setidaknya sejak 2013. Karena ikut bapak pindah tugas. Setelah sejak lahir selalu ada di Palembang.

Sejauh ini Gresik telah berhasil membentuk watak saya. Ada yang sesuai, ada juga yang perlu diubah. Agar pribadi ini lebih bijak. Sebagai orang Sumatera, Jawa Timur dibenak saya, dulu, punya tindak-tanduk halus. Karena konotasi “Jawa” nya.

Realitanya, bikin saya kecele.

Mataraman, Arekan, dan Pandalungan. Ada tlatah nya (wilayah kebudayaan) sendiri. Memang nasib, saya “terkena” yang Arek’an. Yang dipresepsikan tegas, terbuka, keras, namun bersahabat. Dan kadang-kadang, hantam kromo. Terutama makian yang digunakan. Begitu melegenda.

Kontras dengan yang Mataraman. Mereka halus, sopan, dan betul-betul menjaga unggah-ungguh (sopan-santun). Saya setuju sepenuhnya dengan persepsi itu. Karena terbukti.

Saya selalu penasaran, kenapa bisa berbeda begitu? Kan sama-sama orang Jawa-nya. Belakangan saya tahu kalau perbedaan itu disebabkan demografik, sejarah, dan hal antropologi lainnya. Namun yang mencuri perhatian saya adalah faktor makanan daerah.

Makanan khas Gresik adalah Krawu. Disajikan dengan nasi pulen beralas daun pisang. Bukan piring. Lauknya berupa sayatan daging sapi, semur, dan jeroan. Lalu diberi topping serundeng dan sambal terasi.

Makanan yang gurih dan nikmat. Tapi jangan terlalu sering. Bisa-bisa kolestrolnya mundhak.

Saya mencoba Krawu kali pertama tahun 2014. Saat menghadiri Hut PT Petrokimia Gresik, yang dirayakan saben 10 Juli itu. Mulai saat itu saya selalu merekomendasikan Krawu pada siapapun yang akan berkunjung ke Gresik. Terutama pada kawan-kawan yang dari Sumatera.

Tapi bagaimana bisa, makanan “khas” berhubungan dengan watak masyarakatnya? Warga Gresik yang asli. Bukan seperti saya yang pendatang, memiliki cerita menarik.

Hidangan ini disebut krawu karena penjualnya menggunakan tangan atau krawuk (bahasa Jawa kasar) untuk mengambil nasi, daging, dan serundeng. Krawu muncul pada abad ke-13. Mulanya, Krawu adalah bekal nelayan. Profesi mayoritas warga Gresik. Mafhum, karena Gresik adalah wilayah pesisir.

Makanan ini dimakan di tengah laut, saat nelayan kembali pulang. Inilah yang menjelaskan kenapa nasinya dingin. Pun hingga kini, nasinya akan selalu dingin saat dihidangkan.

Hubungan makanan khas dengan watak masyarakat, sepertinya dapat dijawab karena filosofi yang ada dalam makanan khas itu sendiri.

Krawu, dengan cerita diatas, secara tak lagsung mengindikasikan karakter masyarakat Gresik. Masyarakat pesisir.

Kini, Gresik adalah Kota Industri. Penghubung strategis kota Surabaya. Apakah wataknya berubah? Mungkin, namun makanan tidak akan bisa membohongi.

Kapan-kapan saya ingin mengulas kondisi pertanian di Gresik. Kalau ada waktu. Tentu butuh jalan-jalan dulu pastinya.

(fmi)


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Fadel M. Irfan

Seorang jurnalis pertanian. Yang juga sangat senang sejarah.

Tinggalkan Balasan