Jagung Pioneer

Jagung Pioneer. (Fadel M. Irfan)

Thecocopost.id-MALANG. Sudah tidak lagi bernama “Pioneer”. Setidaknya, begitulah rebranding dari perusahaan ini. Akibat merger yang dilakukan oleh DuPont dan Dow. Keduanya merupakan konglomerasi dari AS. Jadilah: DuPontDow. Kurang menarik? Anda benar.

Diubah lagi: Corteva Agriscience.

Perusahaan benih jagung hibrida yang serba bisa. Begitu kesimpulan saya setelah mendengar pemaparan Pak Agus Junaidi. Yang menjabat sebagai Plant Supervisor saat acara field trip.

Biasa, acara kuliah.  

Tapi ini yang paling bermanfaat. Buat bekal selepas lulus nanti. Untuk jadi profesional di industri pertanian. Tidak sekedar jalan-jalan alam. Seperti mata kuliah “agro-agro” yang mirip rekreasi itu.

Namanya Corteva, tapi petani tetap mengenalnya sebagai Pioneer. Tingkat kedikenalan Pioneer sudah sangat kuat. Sebelum jadi Corteva, perusahaan ini bernama PT. Pioneer Hibrida Indonesia. Beroperasi sejak 1982 di Malang.

Perjuangan awalnya begitu menyentuh. Penuh dedikasi. Awalnya pasar benih jagung di Indonesia bisa dikatakan tidak ada.

Permintaannya yang tidak ada.

Mayoritas petani saat itu menganggap jagung sebagai komoditas sekunder. Bisa juga ditanam tapi untuk konsumsi sendiri. Istilahnya subsisten. Repot betul. Dan ada lagi: 1982 juga era orde baru. Yang bagi petani kebijakan pertaniannya sangat padi-sentris.

Demi swasembada. Yang hingga kini dibangga-banggakan. Bahkan jadi bahan kampanye.

Puncaknya tahun 1987 saat Pak Harto menerima penghargaan dari FAO di Roma, Italia. Pak Harto berhasil mengontrol populasi lewat KB. Dan disaat yang sama, mampu meningkatkan produksi pangan.

Pangan berarti padi. Dan hanya itu saja.

Sayangnya euforia itu berumur pendek. Dalam agronomi, saat monokultur begitu intensif, akan ada ledakan serangan hama. Diistilahkan outbreak. Yang menyebabkan gagal panen. Bisa begitu karena rantai makanan dalam ekosistem sudah tidak imbang lagi. Musuh alaminya hilang. Detailnya bisa anda pelajari di DPT (Dasar Perlindungan Tanaman).

Dan benarlah. 1989 terjadi gagal panen. Akhirnya pemerintah mengubah strateginya. Tanaman pangan tidak lagi hanya padi. Dikenalkanlah istilah: Pajale. Padi-Jagung-Kedelai. Belakangan, tanaman pangan lokal juga dimasukkan.

Strategi sudah berubah: Dari monokultur ke diversifikasi. Dan di tahun itu pula Pioneer mulai berhasil.

Seperti namanya, Pioneer lah yang menjadi pelopor dalam pasar benih jagung. Permintaan yang terbentuk karena musibah itu dimanfaatkan dengan baik. Dunia bisnis memang selalu menarik untuk dicermati. Karena dinamikanya itu. Dan dalam 1 dekade kedepan Pioneer mampu berkembang. Pelan sekali.

Bisnis benih sangat mengandalkan komunikasi. Pertama, harus menemukan petani yang mau dijadikan mitra. Kemudian melakukan uji coba lapang. Istilahnya Demplot: Demo Plot. Saat waktu panen, hasil benih tadi dibandingkan dengan cara yang biasa dilakukan petani. Bila hasilnya signifikan maka Demplotnya sukses. Dan petani suka dengan bukti nyata begitu.

Dan harus seperti itu. Benih yang akan di-Demplot memang diuji coba perusahaan dulu.

Biar tidak kecele saat di lapang nanti.

Periode 90an Pioneer mulai terkenal. Dari mulut ke mulut. Dari desa ke desa. Selain karena kualitas benihnya, Pioneer punya koordinator di setiap desa.

Mirip partai Golkar yang selalu menang pemilu. Sama-sama punya jaringan lapang yang masif.

Tapi ada masalah: Pioneer belum mampu melakukan mekanisasi produksi. Juga belum mampu melakukan scaling up. Produksinya pun belum terstandar. Dan itu penyebab petumbuhannya pelan sekali.

Untuk bisa tumbuh cepat Pioneer butuh investasi yang tidak sedikit. Tapi duit Pioneer belum cukup. Bahkan tidak akan cukup.

Padahal permintaan lagi tinggi-tingginya. Jagung di pertengahan 90an banyak diserap pabrik pakan ternak. Pertumbuhan ekonomi di era itu begitu pesat. Sejalan juga dengan perubahan gaya hidup: Butuh banyak protein, khususnya unggas.

Menariknya tahun 1999, Pioneer diakuisisi. Oleh DuPont: Konglomerasi dari Iowa, AS. Tidak tanggung-tanggung, sahamnya dibeli 100%. DuPont sendiri sudah punya jam terbang sangat tinggi. Didirikan sejak 1926 dan memang perusahaan spesialisasi di Bioteknologi.

Pas sudah.

Maka tahun 2000an dimulai investasi besar-besaran. Didirikanlah pabrik di Gondanglegi, Malang. Lengkap dengan fasilitas risetnya. Ternyata, itu belum cukup. Masih ada lagi. DuPont melakukan merger dengan Dow yang dari Michigan pada 2016. Bedanya, Dow punya spesialisasi kimia dan teknologi tinggi. Lahirlah Corteva Agrisciences. Hingga bisa mengeluarkan varietas jagung hibrida hingga 36 unit.

Ia punya visi ingin jadi “Total Agriculture Solution”. Dibentuklah dua divisi: “Seed + Digital Solution” dan “Crop Protection Solution”. Dan kini, Pioneer, maksud saya Corteva, tetap jadi pemimpin pasar benih jagung di Indonesia.

Yang ternyata, juga disebabkan ukuran kemasannya.

Tapi itu untuk tulisan berikutnya sajalah. Masih banyak hal yang perlu diungkap

Tunggu saja.

Ampun-ampun…  (fmi)

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
error: Content is protected !!