Improvisasi dan Pantang Menyerah

(Fadel M. Irfan)

Kejadian malam ini sepele tapi seru. Pada awalnya, saya cuma mau ngeprint laporan magang di kos teman. Lokasinya di Kertoraharjo.

Eh ngglethek! Tibak’e dia tidak di tempat. Padahal 3 minggu sebelum itu kami sudah saling menyadari satu hal. Bahwa, kebutuhan kertas bagi mahasiswa akhir itu akutnya luar biasa.

Dokumen yang diprint itu memang hanya dua: laporan magang dan bab-bab skripsi. Tapi, dokumen itu bisa kurang ajar tebalnya. Belum lagi ditambah revisinya. Anggaran bulanan bisa mampus kalau tidak pakai strategi.

Akhirnya kami bersepakat. Saya beli kertasnya dan dia yang menyediakan printnya. Awalnya baik-baik saja. Jadi kalau butuh ngeprint tinggal saling kontak. Solusi cepat yang rendah biaya ala mahasiswa.

Sayangnya, kesibukan dia ikut lomba karya tulis ilmiah dan jadi takmir masjid kampus sering bikin saya ngelus dada. Saya tidak tahan lagi. Arek iki kebacut. Dihubungi lewat whatsapp, sering centang. Ditelepon, malah di-forward.

Yaopo sakjane karep’e? Malah dadi ruepot ngene.

Tapi begini, dalam menghadapi masalah/tantangan saya mulai membiasakan diri. Berpedoman pada doktrin Militer Prussia.

Bunyinya: “Ketololan itu adalah apabila menginginkan hasil yang berbeda tapi masih menggunakan cara yang sama”. Hoho, begitu kalimat legendaris Marsekal Helmuth Von Moltke.

Saya tak hilang akal. Ini harus bisa ketemu pemilik kosnya. Kan dia pasti pegang kunci cadangan. Beberapa menit kemudian saya berhasil bertemu pasutri pemilik kos. Berbasa-basilah saya. Khas orang Jawa.

Sejurus kemudian saya nyelethuk kromo: “Pak, bagaimana kalau saya dibukakan kamar kosnya & taruh dokumen dia. Lalu, saya ambil kertas print saya. Keperluannya cuma itu kok.”

Ternyata itu berhasil. Kertas print satu rim itu kembali ke empunya. Dan masalah ngeprint itu gampang. Ada 2 tempat yang menyediakan tarif 50 rupiah kalau pakai kertas sendiri di Sumbersari.

Tuntaslah masalah laporan magang ini. Selamatlah anggaran saya. Huahaha, Ura!

(fmi)

Fadel M. Irfan

Jurnalis pertanian yang sangat senang sejarah.

%d blogger menyukai ini: