Emas Putih nan Manis

The Times of Israel

Tanaman ini sering dijadikan perisa. Es krim dan macam-macam kue. Bahkan parfum pun ada yang dibuat dari ekstraknya.

Yang saya maksud adalah vanila. Dan di tahun 2019 harga vanila menyentuh angka 500 dollar per kilogramnya. Fantastis!

Vanila punya sejarah panjang. Tanaman ini awalnya berasal dari Mexico yang saat itu merupakan wilayah Aztecs. Pada abad ke 16 Mexico diintegrasikan kedalam Kekaisaran Spanyol.

Negara kecil itu mendadak sugih akibat kekayaan di negara taklukannya. Emas, perak dan berbagai hasil bumi lainnya. Adalah Hernan Cortes yang memperkenalkan vanila ke benua Eropa pada 1520.

Produsen vanila kini 80% dikuasai oleh Madagaskar. Dengan pembeli terbesarnya adalah korporasi makanan Eropa & Amerika Utara.

Permintaan globalnya meningkat tajam 5 tahun terakhir karena tren mengkonsumsi makanan alami. Yang berarti, say no pada perisa vanila kimiawi. Ini adalah peluang agribisnis hebat.

Pertanyaannya, Indonesia bagaimana?

Indonesia ternyata hanya menguasai 12% dari pasar vanila global. Sentra vanila berada di wilayah NTT, NTB, Sulawesi, dan Papua. Tapi tenang, masih ada celah yang bisa dimanfaatkan.

Madagaskar sebagai produsen terbesar masih berjuang untuk mengatasi tindak kriminal yang sering terjadi saat musim panen.

Fenomena itu ditambah fakta lain: sentra vanila Madagaskar tersebar di daerah pedalaman hutan yang aksesnya sulit ditembus. Dan lagi, teknis budidaya vanila menuntut penyerbukkan secara manual.

Panen cuma setahun sekali. Serta butuh tenaga kerja kasar yang sangat terampil. Itulah yang mengakibatkan harga vanila jadi mahal.

Indonesia sebenarnya menang di infrastruktur. Berupa jalan maupun sosial. Petani di Indonesia kan mayoritas tergabung dalam poktan (kelompok tani) di desanya masing-masing.

Maka, diperlukan konsolidasi bisnis yang mantap. Agar kualitas, kuantitas, dan kontinyuitas vanila Indonesia dapat terserap pasar dengan baik.

Tentu ini perlu didukung pemerintah. Melalui kebijakan Kementerian Pertanian dan Kementrian Perdagangan. Khususnya soal kemudahan ekspor & perlindungan harga.

Saya harap kedua menterinya tidak saling minteri.

(fmi)

Fadel M. Irfan

Jurnalis pertanian yang sangat senang sejarah.

%d blogger menyukai ini: