Ekspedisi Nangka (Episode 2-akhir)

Ekspedisi nangka. (Fadel M. Irfan)

Thecocopost.id-MALANG. Ternyata keliru…!

Saya pikir benar-benar dipetakan. Secara harfiah. Jadi menggunakan peta Desa Bambang begitu. Lalu area-area yang ada pohon nangkanya diarsir. Atau pakai cara yang modern. Menggunakan Google Earth lalu dideliniasi. Yang kalau dikerjakan harus detil. Cara pertama atau kedua pun sama saja. Harus rekoso. Tapi tidaklah begitu.

Oiya. Alasan saya dan Deista mendata adalah untuk keperluan stek pucuk. Pada seluruh pohon nangka di Desa Bambang. Bagian atas pohon nangka diputus lalu disambung dengan yang baru. Begitu.

Dan memang harus begitu caranya. Mayoritas pohon nangka di Bambang tidak produktif. Penyebabnya saat penanaman menggunakan biji hasil nangka yang telah dikonsumsi. Bisa tumbuh, tapi tak optimal. Apalagi untuh berbuah butuh 4-5 tahun.

Mestinya tidak pakai biji bekas begitu. Bisa menggunakan yang hibrida. Malah ada pohon yang sudah belasan tahun tapi tidak ada buahnya sama sekali. Bikin kecewa. Lama dinanti tapi tak kunjung muncul juga.    

Tapi mereka ini tabah luar biasa. Apapun hasilnya akan dipanen. Meskipun sudah menunggu lama. Dijualah daging nangkanya. Untuk sayur lodeh. Dengan harga Rp1.500,00 per kilogramnya. Murah sekali. Tidak sebanding. Maka, target magang kami salah satunya mendistribusikan bibit nangka baru. Yang asalnya dari Mojokerto. Agar semua pohon nangka di Desa Bambang distek pucuk.

Harapannya, pohon akan berbuah normal. Dan yang dijual adalah buah nangkanya. Yang bisa untuk bahan baku keripik. Dengan harga Rp35.000,00 per kilonya. Jadi steklah kuncinya. Agar aset petani di Bambang bisa optimal. Punya aset kok tidak menghasilkan. Kan eman-eman.

Tapi ya itu. Perlu dipetakan dulu.

Dan saya kebagian Dusun Bendo. Bersama Pak Pardi. Diajaklah saya ke rumah salah seorang tetua disana yang tau persis tentang Bendo. Pak Pardi lulusan UNMER. Jurusan ekonomi tahun 1991. Bekerja sebagai petani. Komoditasnya hortikultura dan mengelola lahan seluas 1,2 hektar. Ia begitu bangga dengan profesinya itu. Disaat rekan seangkatannya banyak berkarir di bank.

Saya sungguh salut. Tapi itu menampar hati saya. Pokoknya setelah lulus saya harus betul-betul tetap ngurusi pertanian. Apapun profesinya. Tidak boleh kalah dengan yang dari ekonomi. Apalagi jurusan saya Agirbisnis. Begitu batin saya.

Akhirnya, kami berangkat ke Bendo. Sepanjang jalannya banyak pohon sengon. Membuat sejuk meskipun cuacanya sedang terik. Tapi pohon-pohon ini masih dimiliki Perhutani. Antara ingin dimiliki terus atau belum mau bagi hasil dengan warga. Padahal di desa sebelah Bambang. Desa Bringin. Banyak petaninya jadi juragan sengon. Kan bisa dikelola bersama. Sekalian menggerakkan ekonomi warga sekitar.

Akhrinya, setelah sampai, saya diajak ke rumah Pak Aji Kwowo. Ia paham betul daerah sini. Nama belakangnya agak mirip marga Korea.

Seperti biasa, saya kemudian disuguhi wedhang. Minuman hangat begitu. Umumnya teh. Rasanya manis sekali. Katanya semakin manis maka semakin diterima tamunya oleh tuan rumah. Oke. Baiklah. Mirip budaya Turki saja. Yang saya lihat di film Water Diviner.Bedanya disuguhi kopi.

Kami diskusi sebentar. Saya banyak mendengar disini. Berhadapan dengan key informan, mendengarkan adalah cara yang pas sambil sesekali mencatat yang penting. Mirip pengambilan data metode kualitatif. Yang lebih mengandalkan informasi daripada angka yang kuantitatif itu. Dan disini baru ketahuanlah cara memetakan pohon-pohon nangka itu.

Saya lalu diberi dokumen yang sejak awal dipegang Pak Pardi. Dua lembar. Lembar pertama berisi peta buta Desa Bambang beserta tiga dusunnya. Lembar keduanya berisi tabel.

Disini saya bingung. “Kok tabel pak? Terus bagaimana cara memetakannya?”

“Ya tabelnya itu diisi mas. Berapa pohonnya. Letaknya di RT/RW mana terus pemiliknya siapa. Begitu saja. Orang sini lebih paham itu daripada peta,”

Saya tertegun. Berarti tidak harus betul-betul disalin ke peta. Lha intinya ’kan ini untuk mengetahui saja. Informasi tentang pohon-pohon nangkanya itu. Dan iya ya, kan lebih cocok begitu. Logikanya sudah masuk. Kan tinggal tanya nanti. Akan diarahkan kemana. Praktis.

Cara itu sama sekali tidak saya pikirkan. Keterlaluan.

Butuh satu setengah jam untuk keliling Dusun Bendo. Kami tanya satu per satu. Setelah area bawah beres kami pindah keatas. Jalanannya naik turun. Tapi perjalanan sangat seru. Melewati hutan-hutan pinus. Meskipun jalanannya makadam. Untungnya Vario saya kuat.

Lokasi terakhir dekat dengan jalanan utama yang luar biasa mulusnya. Ada 70 pohon nangka disitu. Besar-besar. Umurnya 15 tahun tapi tidak ada buahnya. Ini bisa saya katakan yang terparah.

Akhirnya selesai. Total ada 128 pohon di seluruh Dusun Bendo. Dengan dua dusun yang lain, total ada 833 pohon. Tepat pukul 12 siang selesai. Jauh dari ekspetasi saya. Saya bisa lebih cepat pulang.

Sebelum pulang, selama 15 menit saya memandang lapangan rumput yang begitu luas disampingnya. Menenangkan. Mirip grassland di Skotlandia yang biasa digunakan untuk menggembala domba.

Saya juga membayangkan yang lain. Sebagai medan peperangan pada abad ke-18. Mirip gim Napoleon Total War yang kini begitu saya sukai. Yang kini lagi main menggunakan faction Ottoman Turki. Di lapangan itu, ada bukit tinggi di bagian belakangnya. Cocok untuk arteleri yang bisa ditembakkan ke arah infatri di area tengah. Area sisi kanan kirinya bisa untuk kavaleri. Untuk gerakan flanking ke arah musuh.

Wah! Pikiran saya kemana-mana. Akibat nyeri kepala dari efek flu burung yang saya derita. Saya bersyukur. Karena nangka ini saya belajar dua hal yang amat berharga. Berpikir simpel dan menyiapkan psikologi. Bahwa kenyataan di lapangan seringkali berbeda dengan diatas kertas.

Pengalaman yang luar biasa. Saya kini terus membiasakan dua hal itu. Dan belakangan saya mulai terbiasa bisa bekerja. Dalam hal apapun. Tanpa membuat badan menjadi remek. Padahal sebelumnya, bekerja seringkali ngoyoh. Untuk apa ya begitu.

Keterlaluan! (fmi)


Helmuth von Moltke

A Preußen Feldmarschall

%d blogger menyukai ini: