(EDITORIAL) Fasilitas Keamanan Memadai, Mengapa Pelecehan Seksual Susah Diungkap?

Ilustrasi pelecehan seksual di tempat kerja. (Linovhr.com)

Thecocopost.id-MALANG. Pada hari Selasa (23/4/2019) kemarin, warganet dihebohkan oleh pemberitaan viral mengenai pelecehan seksual yang terjadi di atas kereta api (KA). Korbannya adalah seorang mahasiswi arsitektur semester empat yang tengah menempuh pendidikan di Kota Pahlawan, Surabaya.

Berdasarkan keterangan Edy Kuswoyo pada Detik.com, dalam pemberitaan yang berjudul “KAI Jelaskan Kejadian Viral Mahasiswi Dilecehkan di Kereta“, menyebutkan bahwa kejadian itu terjadi di atas KA Sembrani, relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi. KA Sembrani sendiri adalah salah satu KA kelas eksekutif yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero/KAI).

Penasaran dengan rangkaian yang dibawa, The Coco Post Indonesia mencoba menelusuri foto KA Sembrani yang beredar di media sosial Instagram. Dari hasil penelusuran, KA Sembrani sudah menggunakan rangkaian kereta eksekutif pabrikan 2016, sama seperti yang biasa digunakan oleh rangkaian KA Bima relasi Malang-Gambir.

Salah satu fasilitas dari kereta eksekutif pabrikan 2016, jika dibandingkan pendahulunya adalah adanya fasilitas Closed Circuit Television (CCTV) yang berada di ujung-ujung kereta, dekat dengan pintu masuk ruangan kereta dan menghadap ke arah ruangan kereta. Adanya CCTV ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan serta memudahkan petugas dalam memantau tindak kejahatan di dalam kereta.

Fasilitas CCTV ini terbukti berhasil dalam mengurangi tindakan kejahatan. Terbukti pada tahun 2017 silam, ada seorang pencuri laptop yang ditangkap di atas KA Sembrani. Peristiwa ini diberitakan oleh berbagai media, salah satunya TribunJateng.com yang berjudul “Tak Tahu Ada CCTV, Pencuri Laptop dan Smartphone di KA Sembrani Ini Ditangkap“.

Dengan adanya fasilitas tersebut, logikanya segala bentuk kejahatan maupun pelanggaran tata tertib yang terjadi di atas KA bisa dideteksi. Misalkan, jika ada penumpang yang kedapatan merokok, petugas yang memantau CCTV di ruang keamanan yang terletak di Kereta Makan bisa segera memberikan sanksi dengan menurunkan penumpang tersebut di stasiun terdekat. Namun, pada kasus pelecehan seksual kemarin, mengapa hal ini masih sulit dideteksi?

Berbicara mengenai pelecehan seksual, ada berbagai macam bentuknya. Berdasarkan hasil survei yang dirilis oleh akun Instagram @_perempuan_ dalam story-nya, bentuk pelecehan seksual antara lain, siulan, komentar tubuh, disentuh, main mata, dan komentar seksis. Dalam kasus pelecehan di KA Sembrani, pelecehan seksual yang terjadi berbentuk sentuhan. Namun, dalam hal ini, masih belum diketahui pasti apakah sentuhan yang dilakukan pelaku terhadap korban dilakukan secara terang-terangan atau sedikit sembunyi-sembunyi.

Menanggapi kasus ini, Edy Kuswoyo, dalam pemberitaan di Tirto.id yang berjudul “Pelecehan di Kereta: Kenapa Petugas Sinis Terhadap Aduan Korban?” menyatakan bahwa pelecehan seksual masih sulit untuk dideteksi. Hal ini berbeda dengan kasus penumpang yang merokok atau mencuri barang penumpang lainnya yang cenderung lebih mudah dilihat dari CCTV.

Selain itu, menurut Edy pada artikel yang sama, pelecehan seksual biasanya hanya pihak korban dan pelaku saja yang mengetahui. Akibatnya, petugas tidak bisa serta merta memberikan sanksi kepada pelaku karena minimnya alat bukti yang ada.

Berkaca dari peristiwa tersebut, PT KAI selaku penyedia jasa seharusnya bisa memberikan perlindungan keamanan bagi seluruh pelanggannya. Salah satunya dengan mencari cara yang tepat dalam menangani kasus pelecehan seksual di atas kereta, mengingat kejadian pelecehan di atas KA bukan pertama kali ini terjadi.

Selain itu, PT KAI sebaiknya juga memberikan pendampingan pada Sumberdaya Manusia (SDM) yang dimilikinya untuk lebih peduli pada kasus pelecehan seksual. Misalnya dengan melindungi korban, bukan dengan mengeluarkan ucapan yang malah membuat korban semakin tertekan. (ldr)

PT KAI selaku penyedia jasa angkutan massal terbaik di Indonesia harus memikirkan cara menindak kasus pelecehan seksual agar tidak terulang, mengingat ini bukan peristiwa yang baru pertama kali terjadi. Perlindungan terhadap korban harus dilakukan, dengan cara meningkatkan kepedulian SDM yang dimiliki terhadap pelecehan seksual yang dialami korbannya.

Lugas Destra Rumpakaadi – Editor in Chief The Coco Post Indonesia
Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
error: Content is protected !!