Diapresiasi Tapi Juga Dihujat

The Jakarta Post

Thecocopost.id-MALANG, INDONESIA. Film ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang laki-laki bernama Juno yang mencoba menemukan orientasi seksualnya dengan menjadi penari Lengger.

Wehehe, premis itu menggambarkan betapa kompleks cerita film ini ya sahabat pembaca. Film yang dimaksud adalah Kucumbu Tubuh Indahku, disutradari oleh Garin Nugroho yang dirilis sejak 2018.

Alur cerita film ini sangatlah rapi dan dilengkapi dengan estetsika yang mengesankan. Sehingga durasi film yang sejam 47 menit menjadi tidak terasa. Kucumbu tubuh indahku juga berhasil mewakili Indonesia sebagai best foreign film di ajang Oskar ke 92.

Pencapaian yang sungguh luar biasa. Namun, kenapa filmya bisa menimbulkan kontroversi sampai diboikot di kota-kota tertentu? Film yang ditayangkan di acara Telescope.UB kemarin sejatinya mengangkat tema sensitif, yaitu orientasi seksual.

Sudah menjadi rahasia umum ya sahabat pembaca, para warga +62 mudah tersulut dengan hal-hal sensitif, hehehe. Perjuangan Juno menemukan orientasi seksual tergambar dengan jelas dalam Kucumbu Tubuh Indahku.

Tetapi, hal yang membuat saya betah adalah bumbu yang dipakai dalam pencarian orientasi itu adalah unsur budaya berupa Tari Lengger. Sehingga, film ini memang sensitif tapi berhasil memotret fenomena sosial yang ada di masyarakat secara lengkap.

Kalau sudah menyangkut fenomena sosial, kita harus menerima itu semua karena memang terjadi alias faktual. Bahkan bila fenomena itu kurang sesuai dengan pandangan umum masyarakat. Dalam hal ini, orientasi seksual Juno yang gay.

Akhirnya bagi yang belum nonton, saya ingin menyarankan kalau film ini harus dilihat dengan pikiran terbuka. Dunia itu tidak selalu sekadar hitam-putih. Ada fenomena sosial yang nyeleweng.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu cara yang berbeda dengan mengedepankan ruang dan dialog. Yuk kita saling memahami daripada menghakimi. Khususnya di dunia maya.

(fmi)


Helmuth von Moltke

A Preu├čen Feldmarschall

%d blogger menyukai ini: