Commuter Hell di Jepang dan Penyelesaiannya

Telegraph.co.uk

Thecocopost.id-JAKARTA, INDONESIA. Jepang yang dikenal sebagai negara dengan transportasinya yang teratur dan terintegrasi pernah mengalami commuter hell. Istilah itu merujuk pada kondisi ketika terjadi kepadatan yang luar biasa pada angkutan kereta perkotaan.

Dalam diskusi “Characteristic of Urban Railways in Japan”, Hideaki Tanaka dari JICA menjelaskan kejadian dari commuter hell yang terjadi di Jepang sekitar tahun 1964. Dia mengatakan saat itu diadakan Olimpiade Musim Panas sehingga kondisi di Jepang menjadi sangat padat.

Kepadatan tersebut menyebabkan penumpang kereta menjadi berdesakan dan saling dorong. Kepadatan menyentuh 300% saat itu, meskipun jaringan kereta di Jepang saat itu telah mencapai 1.500 km.

Dari kejadian tersebut, Jepang akhirnya memiliki ide untuk mengembangkan jaringan kereta bawah tanah karena pembangunan jaringan kereta di atas tanah sudah sulit. Dari waktu ke waktu perkembangan jaringan kereta bawah tanah di Jepang mengalami perkembangan, dari 30,9 km pada 1960an menjadi 2.420 km pada 2010.

Adanya jaringan kereta bawah tanah rupanya berdampak pada tingkat kepadatan di kereta. Tercatat, tingkat kepadatan terus mengalami penurunan dari 221% pada 1975 menjadi 165% pada 2016. Targetnya, kepadatan turun hingga 150% agar penumpang dalam kereta masih leluasa untuk membaca koran.

Jepang memiliki pengguna terbesar pada angkutan KA dibandingkan banyak kota di negara maju seperti London, New York, Beijing, dan Seoul. Sebanyak 48% masyarakat adalah penggunan KA, sementara 23% adalah pejalan kaki, 14% pengguna sepeda, 12% pengguna mobil, dan 3% pengguna bus.

(ldr)

Lugas Rumpakaadi

Penggemar kereta api yang suka sambat di Twitter.

error: Artikel Ini Dilindungi
%d blogger menyukai ini: