Budaya Efisien

Yukpigi

Thecocopost.id-MALANG, INDONESIA. Halo sahabat pembaca, disaat weekend seperti ini paling enak mengunjungi tempat wisata alam agar otak menjadi refresh. Salah satu wisata alam yang populer dikunjungi adalah pemetikan jeruk di Desa Selorejo.

Kesan pertama memasuki wilayah Desa Selorejo adalah “wow”. Bila umumnya kondisi rumah di desa itu selalu digambarkan sangat sederhana, disini banyak yang bertipe 72. Megah, lantainya berkeramik, dan punya kekhasan tersendiri.

Tujuan saya adalah ke Dusun Selokerto, menemui Bapak Ngatikno guna keperluan survey wilayah. Beliau ini adalah petani jeruk yang juga berstatus sebagai juragan. Namanya juragan ya sahabat pembaca, tentu tak perlu diragukan lagi masalah materi.

Saya disambut di rumahnya. Dan lagi-lagi, ketika dipersilahkan duduk di ruang tamunya, saya langsung kagum. Interiornya berkelas sekali, furniturnya jati, dan sofanya premium. Kami bicara cukup panjang disitu sampai beliau mengajak saya buat berkeliling lahannya seluas 6 hektar di 9 lokasi berbeda.

First impression yang saya dapat, Pak Ngatikno ini petani sugih 😀

Saya akhirnya memberanikan diri buat bertanya: pak, nyuwun sewu nggih, petani disini kok banyak yang berada, apa rahasianya?

Ia tersenyum lebar. Pak Ngatikno tampak malu-malu menjawab pertanyaan itu. Lalu menghela nafas sebentar dan bercerita yang intinya adalah: bertani selalu identik dengan kemiskinan. Tapi kita hancurkan stigma itu dengan amung roso.

Dusun Selokerto punya poktan dan disitulah pembinaan kepada seluruh anggotanya dilakukan dengan sangat serius. Sejak 2005. Mulai dari budidaya hingga pemasarannya. Tak lupa, mereka juga mengubah mindset dari tradisional ke agribisnis.

Saya cuma manggut-manggut. Kesimpulannya, sugih-nya mereka disebabkan karena betani yang efisien. Hingga keefisian itu tidak lagi menjadi kebiasaan namun budaya.

(fmi)

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
error: Content is protected !!