Berkelanjutan Cap Duobol!

Saya terpaksa membahas hal serius lagi. Tidak bisa ditunda lagi. Juga tidak bisa saya tahan lagi. Tentang RUU SBPB (Rancangan Undang-Undang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan).

Nama boleh berkelanjutan tapi prakteknya jauh panggang dari api. Bagaimana tidak, lha wong akibat RUU dobol itu petani tidak bisa menciptakan dan atau menggunakan benihnya sendiri.

Ironisnya, RUU itu disahkan SAAT Hari Tani Nasional pada 24 September lalu. Sayang popularitasnya kalah dengan demo KUHP & KPK yang penuh drama itu. Ampun-ampun.

Saya sungguh menyesalkan beleid ini. Perspektif pemerintah pun ngotot. Mereka berdalih kalau DIM (daftar inventarisasi masalah) pada RUU itu sudah dibahas sedemikian rupa & melibatkan pihak darimana-mana.

Jujur, saya sebenarnya ingin mengapresiasi RUU ini awalnya. Jadi pemerintah berkewajiban menjaga kekayaan alam sumber daya genetik. Dan untuk itu, saya setuju puol!

Nah masalahnya, kenapa pemerintah melu-melu mengatur, membatasi, bahkan mempidanakan petani (khususnya petani kecil) untuk memproduksi benihnya sendiri?

Kan kebacut dadine.

Sederhana, bila petani ingin meminimalisir biaya usaha tani maka ia harus pintar-pintar menekan biaya input = hal-hal yang digunakan saat proses budidaya atau on farm.

Harus begitu memang. Toh mengharapkan harga jual panen tinggi agar ongkosnya nyucuk adalah perkara yang bikin banyak petani kecewa.

Maka, bagaimana jadinya bila RUU ini disahkan? (semoga tidak)

Apa semua petani se-Indonesia Raya wajib beli benih dari korporasi?

Lantas, yaopo nasib petani yang sudah sejak lama memiliki kearifan lokal benih? Dipidanakah?

Saya kok curiga, jangan-jangan RUU ini diakomodir untuk kepentingan korporasi benih demi menguasai pasar & sumber genetik seluas-luasnya.

Bila itu benar, ini adalah sinyalemen BAHAYA. RUU itu akan membuat petani yang notabene produsen pangan tergantung sepenuhnya pada korporasi. Petani jadi tidak berdaulat di lahannya sendiri.

Lalu dimana letak keberlanjutannya kalau benih saja tidak subsisten?

Wes-wes… Duobol ancene.

(fmi)

Fadel M. Irfan

Jurnalis pertanian yang sangat senang sejarah.

%d blogger menyukai ini: