Bagaimana PJL Bekerja?

Thecocopost.id-MALANG, INDONESIA. Pada kesempatan ini, The Coco Post Indonesia akan mengulas mengenai Petugas Jaga Lintasan (PJL). Pastinya, pembaca sudah tidak asing dengan petugas ini. Pasalnya, petugas ini bisa pembaca temui di pos perlintasan sebidang, lengkap dengan seragam oranyenya.

Tugas dari PJL ini tidak lain adalah mengamankan perjalanan kereta api (KA) yang akan melintas di perlintasan sebidang. Tanpa berlama-lama lagi, mari kita simak cara kerja dari PJL ini.

1. Masing-masing PJL dilengkapi meja layanan di posnya

Dalam menjalankan tugasnya, PJL di masing-masing pos dilengkapi oleh meja pelayanan. Pada meja ini, terdapat peralatan yang berguna sebagai sarana komunikasi, seperti kode alarm buzzer dan telepon.

Di meja pelayanan terdapat beberapa lampu alarm yang memiliki kode. Ada lampu yang bertuliskan ‘Dari A dan Dari B’ pada meja pelayanan. Tulisan tersebut menunjukkan arah kedatangan KA. Sementara, untuk lampu peringatan akan menyala jika jarak KA dari pos sekitar 1 km.

2. Ketika KA akan lewat ada lampu peringatan yang menyala

PJL yang menjaga pos wajib memberitahukan kepada pos selanjutnya bahwa ada kereta yang akan melintas. Sesudah itu, pos selanjutnya akan menerima sinyal lampu peringatan di meja pelayanan.

Lampu tersebut menandakan bahwa KA akan lewat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, lampu akan menyala jika KA sudah berada sekitar 1 km dari pos.

3. PJL memastikan keberadaan KA dengan menelpon PJL sebelumnya

Meskipun sudah ada kode pada lampu tersebut, PJL harus tetap memastikan keberadaan KA. PJL akan menggunakan telepon khusus yang berada di posnya dan menghubungi PJL sebelumnya.

Jika posisi KA sudah pasti, maka PJL akan menutup palang pintu perlintasan. Menutup pintu perlintasan ini juga tidak sembarangan, PJL akan mengaktifkan alarm terlebih dahulu dan kemudian menutup palang pintu. PJL akan sesekali menekan rem palang agar palang pintu tidak mengenai pengguna jalan secara langsung.

4. PJL mengabari ruang kontrol PT KAI jika jalur aman

Usai menutup palang pintu perlintasan dan memastikan jalur aman dilalui, PJL akan menghubungi ruang kontrol PT KAI. Sesudah itu, PJL akan menekan tombol ACK yang terletak di meja pelayanan.

Tombol ACK tersebut mengisyaratkan bahwa jalur aman dan KA dapat melanjutkan perjalanan. Jika tombol ini tidak diaktifkan, KA tidak akan melewati jalur karena isyarat tersebut bisa dikatakan sebagai lampu hijaunya.

5. PJL menyambut KA yang akan melintas

Sebelum KA melintas, PJL harus keluar dari pos dan menyambut KA tersebut. Hal ini dilakukan untuk memastikan Semboyan 20 dan Semboyan 21 pada KA terlihat.

Sebagai tambahan informasi, Semboyan 20 merupakan isyarat yang menunjukkan bagian depan kereta. Semboyan ini ditandai dengan adanya lampu berwarna kuning yang terlihat dari lokomotif.

Sementara Semboyan 21 merupakan isyarat yang menunjukkan bagian belakang kereta. Semboyan ini ditandai dengan plat berwarna merah atau lampu berwarna merah di bagian belakang kereta.

PJL akan melakukan tunjuk-sebut semboyan setelah melihat adanya semboyan tersebut. Jika PJL telah melihat kedua semboyan tersebut, maka bisa dipastikan bahwa rangkaian kereta yang melintas lengkap.

6. PJL menaikkan palang pintu perlintasan dan mencatat nomor KA

Setelah KA melintas, PJL akan kembali ke meja pelayanan untuk menaikkan palang pintu perlintasan dan mempersilahkan pengendara kembali melintas. Tidak lupa, PJL juga akan mencatat nomor dan nama KA serta waktu melintasnya dalam buku tabel laporan harian.

Sekarang, pembaca sudah tahu kan bagaimana cara PJL bekerja. Kalau sudah tahu, yuk bagi artikel ini di media sosial dan ingatkan teman atau saudara pembaca juga untuk tetap menjaga keselamatan di perlintasan sebidang dengan cara tidak menerobos ketika alarm sudah mulai berbunyi.

(BeritaTrans/ldr)

Lugas Rumpakaadi

Penggemar kereta api yang suka sambat di Twitter.

error: Artikel Ini Dilindungi
%d blogger menyukai ini: